Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2020






Masa lalu berbuku saya adalah masa lalu yang di mana perpustakaan SD di kampung penuh dengan kover-kover buku bacaan anak yang hanya bisa dilihat di kaca-kaca karena perpustakaan itu  yang selalu terkunci di siang dan sore hari. Jam yang terbatas dan juga penjaga perpustakaan yang galak, pembatasan peminjaman, terasa susah untuk membaca lebih jauh di sekolah. Rasa penasaran saya mengenai bayang-bayang warna, ilustrasi terus bermunculan. Untuk melihat jejeran kover-kover buku bacaan anak yang bergambar dan berwarna itu, saya harus memanjat pagar perpustakaan. Ingatan bocah saya selalu terngiang ketika melihat kembali buku-buku bacaan anak bercap negara dan tidak diperjualbelikan itu.
 
Kini ingatan berbocah dan berbuku itu hadir ketika pada suatu hari berkunjung ke pasar Jatinegara. Tentu berburu buku adalah momen terbaik bisa bertemu dengan berbagai buku dan pedagang buku di tempat-tempat yang tak terduga : Kwitang, Blok M, Delawas, Jatinegara dan lainnya. Suatu ketika berkarung-karung buku bacaan anak ditawarkan kepada saya dengan harga murah. Sayangnya saya sangat miskin, kerja serabutan dan punya uang lebih hanya berdasarkan honor dari menulis esai dan resensi di koran-koran. Saya hanya membawa puluhan buku, dari situ rasa nostalgia saya mengenai ingatan berbocah dan berbuku muncul kembali. 


Untuk menebus rasa nostalgia itu saya akan menceritakan kembali buku-buku bacaan anak bercap negara yang saya miliki.  Sebagai usaha kecil mengulas secara sederhana kepingan-kepingan cerita mengenai buku bacaan anak yang pernah menjadi bagian sejarah Indonesia. Proyek ambisius Orde Baru mengenai inpres bacaan anak yang menanamkan pengertian pelbagai hal : kota, desa, transportasi, koperasi, pahlawan, teknologi dan lainnya. Tentu selain cerita anak ada juga ilustrasi-ilustrasi yang menghadirkan ingatan visual berbocah kita. Jadilah saya penyalin gambar buku bacaan anak proyek inpres. 

Posted on Minggu, Mei 03, 2020 by Rianto

No comments

Rabu, 16 Maret 2016

Pada hari Sabtu, 20 Februari di Galeri Nasional puluhan orang menunggu gong dibunyikan tanda perayaan bedah buku dimulai. Bedah buku bertajuk Srihadi Soedarsono 70 Years The Journey of Roso ini digawangi Jim Supangkat, Jean Couteau, dan  Bambang Sugiharto sebagai pembicara. Ingatan-ingatan tentang Srihadi mengenai perjalanannya dalam sejarah melekat pada kertas sebagai medium dokumentasi sejarah mulai bermunculan.

Bambang Sugiharto mengatakan, karya Srihadi berbasis kertas  menjadi penting dalam memasuki  dunia spiritualitas. Menurutnya, membuat sketsa adalah kemampuan menangkap rasa. Dalam menangkap rasa inilah, menurut Jean Couteau, Srihadi pernah membuat sketsa kemiskinan era  Soekarno sebagai  pilihan sosial politiknya.
Penelusuran jauh dilakukan Jim Supangkat mengenai catatan sejarah hidup Srihadi. Dalam  buku Srihadi dan Seni Rupa Indonesia (2012) karya Jim Supangkat dikatakan,  Srihadi  lahir dari keluarga priyayi intelektual. Adalah Noto Soeroto yang mempengaruhi pemikiran orang-orang priyayi Jawa  saat itu dengan majalah Oedaya. Majalah itu mampir di pikiran Soedarsono Atmodarsono, ayah Srihadi. Soedarsono  akrab dengan berbagai literatur. Ayahnya memajang lukisan tokoh-tokoh seperti  Rabindranath Tagore, dan Mahatma Gandhi yang memikat mata bocah Srihadi. Obrolan-obrolan seni batik, keris, wayang, seta samurai ayah atau  kakeknya mempengaruhi kepekaan rasa Srihadi ke depannya.

Bagi Jim Supangkat, Srihadi mempunyai tempat di sejarah Indonesia. Dalam diri Srihadi terdapat kisah, peristiwa, pergulatan tokoh kebangsaan yang berkelindan dalam bingkai perjalanan seni rupa. Di tangannya kertas-kertas menjadi medium pendokumentasian sejarah berada. Pencatatan sejarah tak melulu berupa foto-foto. Sejarah Indonesia tercatat dalam kertas-kertas tipis. Di sana tampil peristiwa, tokoh, waktu,  perjalanan sejarah suatu bangsa. Dalam buku sejarah  yang tebal jarang dimuat peran pelukis dalam pergerakan kemerdekaan.
Maka dari hidup Srihadi, kertas menjadi medium sangat penting dalam pendokumentasian perjalanan sejarah Indonesia. Peran seorang pelukis di zaman pergerakan  ada di kisah hidup Srihadi. Tonggak penting Srihadi dalam pencatatan sejarah  adalah perekaman jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA 1 Agustus 1947 yang ditumpangi Agustinus Adisutjipto dan dr Abdulrachaman Saleh. Dengan kertas, Srihadi memotret jatuhnya pesawat yang terbelah menjadi dua. Peristiwa itulah yang memicu terjadinya Komisi Tiga Negara yang  menjadikan Srihadi tampil sebagai  pencatat sejarah perjanjian tersebut lewat  kertas dan gambar.
Ketika berumur 17, Srihadi menjadi remaja  yang terlibat dalam pendokumentasian wajah tokoh-tokoh republik dalam perjanjian Kaliurang antara Indonesia dan Belanda. Srihadi hadir menjadi wartawan-pelukis Balai Penerangan Tentara Divisi IV. Tercatat sketsa-sketsa wajah dari delegasi perundingan di Kaliurang tersebut. Di situ ada  Poppy Djajadiningrat, Abdul Kadir Widjajakusumah. Ada juga  sketsa wajah anggota delegasi Belanda Svan Loggem dan Amerika Eugene H Staryhorn.
Masa-masa genting dalam perang, kertas berupa gambar dan sketsa penting diselamatkan lebih dulu daripada  hidup Srihadi sendiri. Dia  mengaku, “Gambar-gambar ini saya simpan dalam kopor tua. Ke mana pun saya pindah, kopor tua ini selalu saya utamakan untuk diselamatkan” (Jim Supangkat, 2012).  Kertas gambar dan sketsa  berevolusi  mencatat perjalanan bangsa.
Godaan menyibak sejarah melalui medium kertas ini bukan saja menjadi peristiwa penting, tetapi juga mengamini pentingnya peran seorang jurugambar semasa  revolusi. Nashar mengungkapkan,  pelukis menjadi penyebar semangat revolusi melalui gambar-gambar. Dalam buku Nashar Oleh Nashar (2002), pelukis Nashar mengatakan,  pelukis berjuang melalui kuas. Nashar bergerilya dengan menebar gambar-gambar di sudut-sudut kota. Srihadi juga menyebarkan poster-poster perlawanan di  kota Yogyakarta dan Solo.

 Dalan sejarah, tercatat lukisan-lukisan suasana perang seperti Seko karya Soedjojono, Persiapan Gerilya(Dullah), Laskar Rakyat Mengatur Siasat (Affandi), Seri Lukisan Pejuang (Hendra Gunawan), dan Medan Gerilya Wonosari (Kartono Yudhokusumo). Lukisan tersebut perlu ditafsirkan  lebih lanjut agar  bisa lantang bersuara dalam rekam jejak mentalitas sejarah bangsa.
Jejak
Bagi Srihadi, kertas merupakan  jejak sejarah yang mesti dirawat serius. Dia menjadi  medium special, meski bisa  lusuh, menguning, dan mudah sobek.  Dari kertas Srihadi mencatat  perjalanan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Ini  mesti dirawat. Mudji Sutrisno dalam esainya Membaca Sejarah (2015) menuturkan, sejarah mentalitas  menuliskan tidak hanya peristiwa dari kejadian sebagai fakta, tetapi mencoba menunjukkan pula struktur nilai bingkai makna yang memberi roh strukturalisasi sosial, sistem politik, perilaku ekonomi pelaku-pelakunya individual maupun kolektif.

Kertas yang diselamatkan Srihadi berupa gambar dan sketsa yang merekam  perjanjian di Kaliurang dan  jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA menyimpan cermin mentalitas sejarah. Kertas-kertas itu lantang meneriakkan pembacaan sejarah  pergolakan revolusi untuk membaca mentalitas sejarah bangsa. Srihadi mengajarkan  tentang revolusi kertas yang berandil  dalam pendokumentasian sejarah.
Lalu bagaimana  generasi muda harus  membaca sketsanya seperti  Penggeledahan Rumah Rakyat oleh Tentara Belanda (1948)? Dalam diri Srihadi yang saat itu berusia 15  banyak merekam berbagai situasi dan peristiwa pendudukan Belanda atas Yogyakarta tahun 1948. Gambar itu mencerminkan watak  KNIL yang anggotanya kebanyakan mercenaries  banal dan susah diatur. Srihadi menggambarkan watak.
Srihadi menghayati  peristiwa, tokoh, tempat, dan waktu. Ini persis ucapan  Mudji Sutrisno perkerjaan  yang ditambah kerja sejarah menjadi etos  kebudayaan. Dia  hidup karena diberi makna demi  keberlangsungan peradaban. Pembacaan sejarah ini agar orang-orang lebih menghayati sebuah sketsa dan lukisan.
Bagi guru kebudayaan, cermin kertas-kertas  Srihadi merupakan  jalan pembelajaran sejarah. Bagi siswa,  kertas-kertasnya tak lekas berswafoto. Jadi, tetap diperlukan guru-guru kebudayaan yang mampu menggambarkan  karyanya dalam bingkai mentalitas sejarah. Dengan begitu,  bangsa dapat memahami  masa lalu untuk cermin kini ke depan.
 *Tulisan ini masuk di Koran Jakarta 2 Februari 2016


Posted on Rabu, Maret 16, 2016 by Rianto

No comments

Sabtu, 20 Februari 2016


beberapa koleksi buku di rumah
November lalu saya bertemu dengan Romo Mudji. Saat itu Romo Mudji sedang duduk-duduk di ruang tunggu kuliah Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dengan Romo Mudji saya pun mengobrol mengenai sejarah, pendidikan, buku, budaya tulis-menulis dan lain sebagainya. Satu hal yang tak lepas saat bertemu Romo Mudji adalah peristiwa berbagi buku. 

Saat ngobrol santai itu, Romo berbicara mengenai pemaknaan ulang mengenai hari guru.  Saya pun berujar mengenai ingatan guru yang tak lagi berumah buku. Ingatan-ingatan guru  tak berumah buku itu adalah ingatan generasi kami yakni generasi digital. Dalam ingatan kami mengenai guru adalah mereka yang bermobil dan bermotor dan bergadget. Di rumahnya guru yang kita ingat adalah televisi bukan buku-buku. Ingatan itu berdasarkan obrolan dan diskusi dengan mahasiswa-mahasiswa baru yang tergabung dalam Lembaga Kajian Mahasiswa UNJ. Saya pun berucap kepada Romo, “Mungkin itu ingatan kami mengenai guru-guru yang di kota”
  
Romo Mudji mengajak saya untuk mendiskusikan mengenai ingatan guru itu di dengan mahasiswa S3 Pasca Sarjana UNJ.  Kebetulan Romo memang mengajar filsafat pendidikan dan kebudayaan di Pasca Sarjana UNJ. Mengapa obrolan ringan mengenai ingatan guru ini menjadi penting? “Ini terkait dengan proses konsientisasi (penyadaran) mengenai pendidikan dan kebudayaan,” kata Romo.  

Guru pantas diingat dan dikenang. Romo Mudji berujar mengenai pemaknaan guru bermula dari ingatannya mengenai guru-guru di masa silam. Kini kita mendapati penghormatan guru melalui sertifikasi yang klise. Oleh karena itu kita akan mendapati guru profesional dan guru kebudayaan. Yang pertama adalah guru yang dihasilkan dari proses serangkaian pengumpulan sertifikat, tes, pengujian, dan penilaian. Yang kedua adalah guru yang sudi ikhlas mengajar berbagi pengetahuan dengan “membaca” dengan hati melalui serangkaian peristiwa pemaknaan hidup.  
Bagi Romo Mudji ingatan mengenai  guru kebudayaan adalah ketika ia mengingat masa kecilnya naik turun tangga di Borobudur. Di sana ada guru yang sudi mengingatkan kepadanya mengenai pembacaan makna relief-relief di batu-batu dan pemaknaan perjalanan Shidarta Gautama. Cerita dan kisah itu dicatat dan membekas melalui ingatan.

Kini ingatan berbeda tentang guru bagi kami sebagai generasi digital yang menganggap guru adalah yang mengajak kita untuk membaca dengan cara merekam dan berfoto melalui serangkaian kegiatan bernama “Study Tour”. Lalu dibekukan lewat Instagram, Facebook dan Twitter. Kini ingatan guru yang dirasakan Romo Mudji sebagai guru kebudayaan semakin menghilang.

buku yang diberikan Romo Mudji
 Di Abad 21 Kita mengingat guru profesional yang masih terbelenggu dengan gaya dan metode dalam mengajar. Ingatan mengenai guru-guru profesional kita hari ini adalah guru yang tak berumah buku. Guru kita yang disibukan dengan pengejaran sertifikasi, cap,  silabus, dan juga RPP. 

Guru-guru kita akan memadati seminar-seminar hanya demi selembar sertifikat. Sertifikat yang dibutuhkan demi pemberkasan. Sehingga guru kita disibukan dengan formulir dan penghambaan terhadap gaji. Dalam kacamata profesionalitas itu kita mendapati guru yang hebat adalah guru yang lulus ujian kompetensi atau yang disebut dengan  Uji Kompetisi Guru (UKG).

Guru Berbuku
Kisah guru hari ini adalah cerita mengenai guru honorer yang belum dibayar gajinya. Di koran-koran kita masih mendapati guru-guru yang berdemo untuk disegerakan menjadi PNS. Miris sekali ada oknum yang menjual buku-buku yang ada di perpustakaan untuk diloakan, dibuang dan dilebur. Di abad 21 guru hidup di mana buku tak lagi menjadi bacaan mulia. Membeli buku tak pernah menjadi prioritas dalam hidup ditengah sibuknya berkredit mobil dan motor.  

Kita jarang mendapati guru yang berbuku. Membaca banyak buku dan berkisah kepada murid-muridnya. Mengajak muridnya menyelami makna hidup dengan kisah-kisah dari buku-buku. Mengajak muridnya ke toko buku. Memaknai peristiwa membeli buku menjadi penting sebagai pengembangan imajiinasi. Kita kesulitan berimaji guru yang mau memenuhi rumahnya dengan buku. Kita jarang mendapati guru mengajak muridnya main ke rumah mengobrolkan buku. 

Di koran-koran kita hari ini, ingatan tentang guru adalah adalah upacara penghormatan guru melalui  ‘Simposium Guru’ yang dihadiri oleh Jokowi dan Anies Baswedan nan megah. Sekaligus penghadiahan guru-guru berprestasi melalui selembar sertifikat. Semakin bersedih dan pilu jika kita jika penghormatan hari guru seperti ini. 

Di hari guru sekolah-sekolah guru berupacara memperingati guru. Kita jarang mendapati guru berupacara sunyi dengan buku-buku di rumahnya. Ketika kita masuk ke rumah guru, kita hanya mengingat televisi, kulkas, dan kipas angin. Kita merindukan guru yang mengisi rumahnya dengan buku-buku. Kita rindu bergurau sambil berdiskusi mengenai buku di rumah guru yang berbuku. Kita jarang diajak bermesraan dengan buku-buku di rumah guru yang berbuku. 

Kita meyakini mentalitas suatu bangsa ada di tangan guru. Mentalitas yang dibentuk dari imaji buku-buku yang guru baca. Guru-guru kita jangan sampai terpenjara imajinasinya hanya karena tak berbuku. Kita mendapati guru yang bergaji tapi enggan membeli buku-buku. Oh guru.....

*Esai ini masuk di koran Radar Bekasi


Posted on Sabtu, Februari 20, 2016 by Rianto

No comments

Selasa, 16 Februari 2016

5 Desember puluhan orang berkumpul di De Rivier Hotel (eks Hotel Batavia Jakarta) berdiskusi dan mengurusi sejarah. Seminar untuk memperingati hari sejarah yang jatuh pada tanggal 14 Desember itu dihadiri oleh guru-guru sejarah pelbagai daerah, akademisi, peneliti, sejarawan dan mahasiswa.  Berkumpul mengamini sebagai bangsa yang tak lupa dengan sejarah

Sejarah berisi pelbagai ingatan tentang tokoh, tempat, dan peristiwa. Sejarah memerlukan penjelasan dan pemaparan demi pemahaman. Mengundang tokoh-tokoh moncer macam Goenawan Mohamad, Mudji Sutrisno, Anhar Gonggong, Ahmad Tohari, Taufik Abdullah, Ahmad Syafii Maarif, sebagai pembicara guna memantik ingatan akan peristiwa sejarah Indonesia.

Sejarah memang tak akan selesai  diurusi melalui mimbar seminar dan diskusi seharian. Sejarah adalah pengembaraan panjang proses ingatan mentalitas bangsa. Sejarah perlu dimaknai sebagai perjalanan mentalitas bangsa. Mudji Sutrisno sebagai pembicara utama mengingatkan akan kerja manusia sebagai Homo Magnificer, manusia adalah makhluk penafsir makna. Dalam sejarah, manusia hadir menjadi pembaca dan penafsir teks sejarah beserta konteks sejarah itu lahir.

Oleh karena itu, saat Mudji menunjukkan kepada peserta sebuah bingkai foto Presiden Soekarno yang tersenyum di sebuah kantor, di dinding kantor Sang Putra Fajar itu penuh dengan lukisan, apa makna dibalik itu semua? Apakah Soekarno bisa dibilang penikmat estetika? Di sinilah fungsi sejarah sebagai penjelas tafsir makna teks dan konteks sejarah. Sejarah adalah menamai dan menggali ingatan akan peristiwa, tokoh,  waktu dan tempat. Mentalitas sejarah dengan proses menafsir. Membaca sejarah berarti berani menafsir sejarah dalam bingkai kekuasaan.

Mudji Sutrisno mengatakan sejarah mentalitas berada  di jalan tengah. Sejarah yang mau menuliskan tidak hanya peristiwa dari kejadian sebagai fakta, tetapi mencoba menunjukan pola struktur nilai bingkai makna yang memberi roh strukturalisasi sosial, sistem politik, perilaku ekonomi pelaku-pelakunya, baik individual maupun kolektif.

Barangkali seminar diajukan sebagai cara mengingat akan pentingnya percakapan mengenai sejarah. Goenawan Mohamad mengartikan sejarah sebagai percakapan yang tak pernah selesai. Pernyataan Goenawan mengenai sejarah yang puitis itu menggugah ingatan kita untuk mengurusi sejarah yang tak akan pernah selesai dibicarakan, disanggah, dan disepakati.

Belajar dari punggawa-punggawa pembentuk imaji bangsa seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dapat ditemui mentalitas sejarah yang dalam bahasa Benedict Anderson “komunitas terbayang”. Mereka berani membayangkan Hindia Belanda akan menjadi bangsa yang merdeka. Mentalitas mengikis sifat kuli, budak, tunduk, lemah, inlander,dibicarakan melalui diskusi-diskusi sunyi maupun terbuka diingat kembali melalui tulisan-tulisan yang tersebar dan dicetak berupa risalah- risalah, buletin, stensilan, buku, dan koran-koran. Revolusi cetak mendukung gagasan tersebar menjadi suluh yang tak pernah padam mengenai kemerdekaan. Muncullah apa yang disebut Pertja Selatan, Bintang Hindia, Medan Prijaji, Fadjar Asia menjadi alat penebar gagasan-gagasan Indonesia merdeka.

Kita meyakini sejarah hari ini hadir dan besar dari rahim sejarah versi penguasa. Sejarah dimuat dan ditulis oleh yang menang. Sebab itu sejarah selalu menunjukan kekuasaan. Goenawan Mohamad mencontohkan sejarah 65 yang penuh kontroversi dan perlunya proses rekonsiliasi.

Guru dan Rekonsiliasi

Sejarah perlu proses rekonstruksi dan rekonsiliasi. Agar sejarah tidak menjadi doktrin dan alat melanggengkan kekuasaan. Sejarah bisa berawal dari ketakutan. Di dalam tanya jawab seminar,  seorang guru sejarah curhat mengenai penarikan buku paket pelajaran sejarah di sekolah. Konon buku ditarik akibat bercover salah satu tokoh PKI. Buku ditarik dan dicetak kembali menggunakan dana BOS.

Di sini sejarah dapat diartikan sebagai ruang mempelajari sekaligus berdamai dengan ketakutan akan masa lalu. PKI masih menjadi hantu yang ditakuti dan membayang akan sejarah kelam kita. Goenawan mengatakan Orde Baru menjadikan sejarah adalah sebuah distorsi. Kini diperlukan kerja meneliti sejarah yakni menulis mengenai sejarah apa “yang dilupakan” yang lepas dari narasi sejarahnya.

Kita meyakini guru menjadi garda terdepan dalam mengatasi sejarah distorsi ini. Ibarat pemahat, guru adalah pemecah batu sandungan sejarah sehingga ada proses mempelajari sejarah untuk berani menafsirkan kekuasaan. Anhar Gonggong mengatakan guru (sejarah) adalah orang yang berhadapan dengan masa depan. Masa depan rekonsiliasi ada di tangan guru.

Kita mengingat film garapan Joshua Oppenheimer, Senyap The Look Of Silence (2014) ada seorang guru yang mengajarkan kebencian tentang sejarah 65 di kelas. Guru mengajarkan ketakutan akan sejarah kepada anak SD. Sejarah menjadi alat menebar kebencian. Ariel Heryanto (2015)  dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia, menunjukan film sejarah sebagai media melanggengkan kekuasaan. Penelusuran mentalitas sejarah melalui film  sebagai upaya rekonsiliasi sejarah melalui budaya layar kaca.

Proses rekonsiliasi mengenai sejarah kelam 65 membutuhkan peran guru. Guru tak melulu mengandalkan buku paket dan Lembar Kerja Siswa (LKS) saat mengajar sekolah. Guru bisa mengajar sejarah  melalui buku-buku sastra.

Kehadiran Ahmad Tohari dalam seminar sejarah seperti hujan yang mengademkan tanah yang kering. Guru-guru sejarah kita mungkin khilaf mempelajari sejarah hanya bermodalkan buku paket dan LKS yang berisi ringkasan-ringkasan sejarah. Kita lupa dengan peran sastra dalam menjelaskan sejarah.

Melalui sastra Ahmad Tohari mengingatkan akan pembacaan sejarah melalui karya sastra seperti novel. Dongeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari justru menjadi teks membaca kisah 65. Tohari menjelaskan sastra justru memperkaya pelajaran sejarah. Tohari mengingatkan, “menulis Ronggeng Dukuh  Paruk adalah menebus hutang para wartawan dan para pengamat yang takut mengangkat pena.” Sastra lebih berbicara dibanding buku sejarah yang dicetak dan dibagikan “gratis” atas nama negara dan penguasa.

Akhirnya, kita semua, peneliti, mahasiswa, akademisi, serta guru mesti eling, mempelajari sejarah demi rekonsiliasi mengenai sejarah 65 bisa dimulai dengan diskusi karya sastra di kelas. Rekonsiliasi memang dimulai dengan kemauan membaca dan mendengar nurani yang terlupakan di dalam buku-buku sejarah, film, maupun karya sastra. Sore itu mendung, peserta seminar diajak keliling membaca bangunan sisa kolonial di Kota Tua Jakarta.

Posted on Selasa, Februari 16, 2016 by Rianto

No comments

Sabtu, 06 Juni 2015

Mei '98 adalah tragedi kolektif yang terus mengundang ingatan dan perayaan seremonial. Kini kealpaan akan ingatan tentang tragedi Mei 98 itu berujung pada pembangunan prasasti. Kita berpengharapan dengan adanya prasasti akan menjadi obat mujarab untuk terus menjaga ingatan memorial kolektif atas tragedi Mei 98. Monumen diharapkan juga sebagai simbol perlawanan akan amnesia sejarah. Ahok dijadwalkan meresmikan prasasti Mei 98  yang di bangun di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta (Republika, 12 Mei 2015).

  Ingatan kita mengenang sejarah dengan pembangunan monumen ataupun prasasti  selalu merujuk pada cara Soeharto. Soeharto tampil sebagai pahlawan dalam menumbangkan orde lama dengan meninggalkan jejak-jejak kepahlawanannya melalui pembangunan monumen dan prasasti. Saat Soeharto tumbang warisan simbol-simbol itu masih ada. Kita pun ditinggalkan warisan berupa monumen pahlawan revolusi jenderal-jenderal  yang dihabisi oleh PKI di Lubang Buaya. Tidak hanya itu, ingatan akan “jasa” Soeharto pun menjelma pada monumen, museum, pendirian Taman Mini, dan juga penamaan jalan-jalan yang berlabel militeristik.

 Dua tahun sebelum tragedi Mei 98, Soeharto masih sempat meninggalkan ingatan. Dalam buku 50 tahun Indonesia Merdeka (1997) menampilkan rekam jejak kepahlawanan ala Soeharto menumpas PKI.  Sekaligus menghimpun foto-foto yang melabelkan beliau sebagai pahlawan tragedi 65 serta pelabelan sosok Soeharto sebagai bapak pembangunan. Konon di sana kita terpaksa mengingat Soeharto yang selalu ditampilkan hadir membuka peletakan dan peresmian sebuah proyek pembangunan. Kita pun patut meyakini seremonial  ingatan mengenai tragedi dengan mendirikan dan peresmian berupa monumen, prasasti,  adalah sisa-sisa cara berpikir “Orde Baru ala Soeharto” untuk menertibkan ingatan pikiran kolektif. Kita mesti ingat Soeharto berkuasa, banyak menghasilkan sastra perlawanan berupa puisi, cerita pendek, novel.

Kita mesti eling sejarah tanpa harus mengingat dengan prasasti. Widji Thukul tokoh yang hilang dalam tragedi 98 justru mengingat kekejaman militer saat itu melalui puisi. Widji Thukul sadar puisi lebih sangar dibanding harus membangun prasasti. Widji Thukul mengingatkan kita akan dengan puisi,//ingatan rakyat serupa bangunan candi//kekejaman penguasa setiap jaman//terbaca di setiap sudut dan sisi yang menjulang tinggi// (Apa Penguasa Kira, Tempo 2013). Di zaman Soeharto berkuasa Widji Thukul juga terbilang aktivis yang rajin menulis puisi di selebaran mahasiswa, koran, buletin, dan sebagainya. Widji Thukul juga mengurusi cetakan buletin Ajang dan Suara Kampung. Pilihan literatif lebih dipilh dibanding seremonial.

Martin Alieda menghimpun ingatan-ingatan dan suara para eksil akan tragedi 65 melalui kumpulan cerpennya Leontin Dewangga (2003). Dalam cerpennya Leontin Dewangga, Malam Kelabu, Ode untuk selembar KTP justru menampilkan wajah militer berlatar tragedi 1965. Seno Gumira Ajidarma sastrawan cum wartawan juga mengenang tragedi melalui cerita-cerita pendek yang digubahnya dari sebuah tragedi kemanusiaan. Senogumira dalam cerpennya Aku Pembunuh Munir (2013) mengabarkan melalui sastra proses mengingat akan susahnya mengungkap pelaku pembunuh aktivitis Munir. Sastra mesti bersuara. Melalui sastra lebih bersuara ketimbang membangun prasasti.

Mengenang ingatan melalui prasasti justru mengungkapkan kemunduran dan pengaminan cara berfikir Soeharto yang menertibkan ingatan dengan membangun monumen, prasasti, museum. Kita lebih terhormat memilih menjaga ingatan dengan membaca puisi-puisi Widjhi Thukul dibanding harus mengikuti upacara seremonial pembangunan prasasti tragedi Mei 98. Jika Soeharto berkuasa tampil sastra-sastra perlawanan. Justru di zaman reformasi ini kita malah menampilkan prasasti sebagai ingatan kolektif.  

Tulisan ini masuk di Koran Berita Bekasi (04/06/2015)


Posted on Sabtu, Juni 06, 2015 by Rianto

No comments

Rabu, 01 April 2015

Imajinasi kita tentang pelajar masa lalu tak bisa lepas dari buku-buku. Kita teringat akan pelajar masa lalu yang menjaga ingatan tentang hidup berbuku. Harry Poeze dalam bukunya Di Negeri Penjajah (2014) mencatat ingatan-ingatan pelajar terdahulu yang gemar menjadikan buku dan menulis  risalah-risalah. Abdul Rivai saat menjadi pelajar di belanda tahun 1911 membuat risalah penting Bintang Hindia yang berisi ide-ide kebangsaan. Noto Soroeto pemikir kontroversial pun membuat sebuah perusahaan percetakan Boekhandel en Uitgevers-Mij Hadi Poestaka yang menerbitkan buku puisinya Lotos en Morgendauw (Teratai dan Embun Pagi).

            Jauh sebelum itu, kita pun terkenang akan buku Kartini Door Duisteris tot Licht  yang diterbitkan di Belanda tahun 1901 sebagai bukti penyebaran ide-ide Kartini melalui buku. Buku  dibuat dan dicetak sebagai alat penyebaran gagasan Kartini. Roekmini adik Kartini begitu terharu terbitnya buku kumpulan tulisan Kartini ini. Terbitnya buku membuat Kartini seperti hidup kembali. Kartini hidup sebagai ide yang terus menjadi oase ide perjuangan sekolah dan pendidikan. Roekmini begitu terharu menerima buku dari Tuan dan Nyonya Abendanon yang memuat surat-suarat Kartini.  Roekmini menulis, “seolah-olah Tuan telah mengembalikan masa muda kepada saya, telah membangkitkan diri saya dengan semangat baru dan memberi saya kekuatan untuk terjun kembali dalam perjuangan yang harus dijalani demi kebahagian kami semua, dan khusunya untuk kami, kaum wanita.” Kita percaya  buku mengembalikan ide dan imajinasi perjuangan.

            Buku menjadi agenda penting dalam revolusi kemerdekaan. Koentjaraningrat (1998)  lulusan  SMT Djakarta 1942-1945 mengenang dalam esainya Tugas Mengurus Buku di Zaman Jepang dan Zaman Perjuangan terdapat kisah mengenai  perjuangan penting melalui buku-buku. Koentjaraningrat  mengenang “buku-buku yang dibuang kenpetai dan kami punguti itu diangkut dengan gerobak-gerobak dan delman-delman ke stasiun Manggarai dan Stasiun Jatinegara”. Koentjoroningrat menjadi saksi sejarah bagaiman buku ditelentarakan oleh Kenpetai Jepang dari museum-museum Jakarta.

           Koentjoroningrat eling menyelamatkan buku menjadi agenda penting menjaga ingatan akan pengetahuan. Buku dipunguti dan diangkut ke Yogyakarta. Buku disimpan didalam karung untuk mengelabui tentara Belanda. Koentjaraningrat mengingat,“Buku-buku tersebut kami sembunyikan di bawah karung-karung beras, sayuran, dan bahan-bahan pangan lainnya”. Koentjoroningrat yakin buku akan menjadi suluh pengetahuan yang menjaga mahkota pengetahuan. Ingatan itu dijaga dari risalah-risalah dan buku-buku.


            Kita masuk ke abad 21 yang tak lagi menjadikan buku sebagai mahkota pengetahuan. Kampus-kampus jarang membuat agenda bedah buku dan membicarakan buku. Kampus gebyar spanduk promosi iklan. Perpustakaan berlomba mendapatkan ISO  namun sepi akan acara-acara yang membangkitkan imajinasi dan literasi. Kini kita meributkan ongkos cetakan buku pelajaran yang ditarik kembali akibat kisruh kurikulum 2013. Buku menjadi bahan ributan yang selalu dibaca secara ekonomi (baca uang). Buku mesti dibaca secara kebudayaan yang menjaga tradisi dan ingatan. Kita lupa ingatan akan buku yang menjadi mahkota pengetahuan.

Posted on Rabu, April 01, 2015 by Rianto

No comments

Selasa, 31 Maret 2015

Sous le pont Mirabeu coule la Seine
(Di bawah jembatan Mirabeau mengalir Sungai Seine)

Sitor mengawali esainya Paris :Yang Dikenang, Yang Dilupakan (1999)  mengutip sajak “Le pont  Mirabeu “ oleh G. Apollinaire itu. Sungai yang membelah kota terkadang menjadi agenda tak pernah selesai sebagai pemantik imaji dalam bersajak.  Penyair selalu punya dalih dan mengingat ‘kilas balik’ sebuah kota melalui sajak. Simbol-simbol kota dan jejak perjalanan pada sajak yang digubah sang penyair menjadi kunci “membaca kota” sekaligus membaca biografi hidup sang penyair.

Kota-kota yang bersentuhan dengan penyair memantik ingatan “perjalanan” sang penyair dalam proses pematangan dalam mencipta sajak. Kita tak bisa pungkiri tubuh sang penyair yang membaca teduh dan gaduh kota mengingat prosesi itu dengan sajak. Barangkali kita bisa menikmati kota-kota yang tak pernah tersentuh, yang kadang nampak imajiner itu melalui puisi, esai, maupun cerita pendek sang sastrawan.

Penyair selalu ingin bergerak dari kota ke kota. Dari rumah ke rumah yang lain. Dari kampung halaman ke kampung halaman yang lain. Penyair selalu punya “keinginan” transit ke sebuah kota dengan mengingat perjalanan ‘kilas balik’ itu melalui sajak. Kita yang membaca sajak dalam proses kreatif sang penyair menjadi merindu, kasmaran bahkan menjadi mengingat-ingat akan kota yang digambaran melalui sajak itu.

Pemantik awal

Sitor mengaku saat remaja membaca buku “Melawat Ke Barat”  karya wartawan kondang Adinegoro. Buku yang berisi perjalanan-perjalanan yaang ditulis Adinegoro itu menjadi pengingat akan barat yang menjadi kiblat pengetahuan. Sitor mengingat, “Di masa remaja saya pernah membaca buku karangan Adinegoro, wartawan pioner  yang pernah bersekolah di Nederland di tahun 1920-an. Ia menulis cerita perjalanannya waktu  pertama kali  ke Eropa, yang di masa itu  berarti naik kapal laut menempuh perjalanan selama 6 minggu , lewat terusan Suez” (Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45, hal 120)  

Penyair menjadi mata membaca kota. Perjalanan-perjalanannya dimungkinkan dengan lahirnya puisi-puisi dengan kata sebgai simbol penyair yang ingin menggambarkan apa yang dilihat dan dirasakan. Suasana dan peristiwa, gambaran orang-orang yang bakal tercermin dalam syairnya justru membuat kita betah membaca biografis kota dari puisi.

Sitor yang hidup dengan imaji kampung dan kedekatannya dengan sang ayah sebagai kepala suku menjadikan sitor ingin hidup mengembara. Sitor ingat betul dengan filosofi ayahnya yang membuatnya ingin berkelana. Sejak kecil Sitor diajak ayahnya yang kepala suku itu mengembara dari desa ke desa lain. Menyusuri kampung ke kampung dan melewati pelbagai bukit. Disanalah Sitor mengerti, tugas kepala suku adalah pencatat sejarah. Perjalanan seorang ayah yang membawa keyakinan kepada Sitor telah mencipta imajinasi pengembara sekaligus pencatat sejarah.

Hidup Sitor ditengah pergulatan primodial kesukuan, kemerdekaan, perang, dan kota-kota yang merangkak menjadi modern menjadikan Sitor sebagai penyair yang banyak mempunyai banyak ingatan akan kampung halaman. Ajip Rosidi dalam kata pengantar buku “Sitor Situmorang Kumpulan Sajak 1948-1979” (Komunitas Bambu, 2006) menyebut Sitor sebagai penyair yang mempunyai banyak kampung halaman. Yogyakarta, Jakarta, Bali adalah kota yang mengembangkan imajinasinya. Di Asia kita akan menemukan kota ynag disingahinya di China maupun Jepang. Begitupula Eropa dengan Parisnya telah menghilangkan rasa hausnya akan kesusasteraan barat yang hanya didapatkan lewat membaca buku maupun berdiskusi.

Mari kita menikmati beberapa sajak Sitor yang menjadi kata kunci membaca kota. Dalam Sajak Pasar Senen Sitor kehilangan akan gadis “Aminah”. Suasana kesepiannya akan Aminah, berdialog dengan kawan-kawannya macam tukang becak, tukang delman, supir yang menjadi teman menikmati keindahan senyum Si Kebaya Merah. Terkadang kita masih menikmati di tempat-tempat pangkalan macam warkop masih berkumpul orang-orang melepas penat sehabis bekerja dengan menyeruput kopi dan memandang perempuan-perempuan. Di sanalah hidup apa yang dimaksud dengan gejala migrasi ke kota. A Teeuw mengatakan setiap penyair tentu sibuk dengan hidup dan pikirannya. Penyair melalui sajak pun hadir menjadi pemantik ingatan akan perkembangan kota.

Ke mana kawan  semua
Supir, tukang delman
Teman berdampingan
Kita semua bersenda                                                          
Menampung senyuman
Si Kebaya Merah
Dari Kepulan asap merekah
Hai Tukang becak
Bilang padaku
Dewiku
Ke mana kau Bawa
(Sajak Pasar Senen)
Paris di Mata Sitor
            Paris sebagai kota kebudayaan selalu seksi di mata penyair. Wing Kardjo penyair yang membuat disertasi tentang Sitor Situmorang justru menyebut Paris sebagai kota yang dapat bicara tentang hidupnya. Wing Kardjo menganggap sajaklah yang dapat berbicara keras tentang hidup penyair dan jejaknya. Kita pun dapat membaca perjalanan penyair melalui jejak-jejak sajak itu. Kita simak sajak Sitor,

Inilah Paris, kota penyair
            Gua segala yang terusir 
Laut lupakan  sesah
Dalam dekapan satu wajah

(Paris Janvier,1953)
           
            Paris kota penyair. Kita menyadari betul konsep Paris yang kita duga adalah kota yang penuh cinta dan romansa. Seorang penyair macam Wing Kardjo menyindir dengan menyebut Paris sebagai kota yang dirindukan tetapi un mal aime yakni kota yang mirip dengan cinta yang jahat. Kita pun memandang kota yang penuh dengan clochard (gelandangan). Kota yang dihuni binatang serakah. Sitor pun menggambarkannya dengan,

            Kelupaan sebuah kota
            Di mana duka berwujud manusia
            Dan bahagia pada manusia tak punya
           
(Paris Janvier,1953)                                                                                                          

Kembali dalam esainya, “Paris Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan” Sitor mengungkapkan Paris sebagai kota yang dikunjungi saat ia menjadi wartawan. Tahun 1952 Sitor berkesempatan menikmati “Pameran abad ke 20”. Sitor menulis, “Di saat itu saya merasa seakan-akan semua itu digelarkan demi memenuhi kebutuhan saya pribadi memuaskan kehausan saya “minum langsung dari sumbernya” (kesenian modern).”. Sitor pun mengenang Paris pada perjalannya di tahun 1952, 1957, 1964, 1977, 1981, 1986, 1989, dan terakhir 1991.

Penyair berkunjung dan hadir di kota yang pernah ia singgahi sebagai “kunjungan kilas balik” untuk mengenang tempat, suasana, maupun peristiwa. Penyair menjadi pencatat sebuah kota. Di perjalanann Sitor ke Paris tahun 1992 adalah hari istimewa bagi Sitor. Sebuah puisi  Apollinaire yang ia kutip, terbayang  Sitor akan penyair itu singgah di sebuah rumah dengan plaque tertulis,

plaque Dans cette maison
vecut et mourant
(janvier 1913-9 novembre 1918)
Le Poete Guillaume Apollinaire 

Seorang penyair hadir di kota bukan menjadi orang asing melainkan menjadi perantau yang mempunyai imaji setiap kota adalah kampung halamannya. Barangkali itu juga yang diyakini oleh Sitor. Restauran saat makan malam bersama temannya Francoise dan Jean, Sitor merasa bukan sebagai orang asing. Kilas balik ingatan saat pertama kali tinggal di Paris tahun 1952 pun terbayang. Kenangan akan eropa itulah yang dianggap Subagio Sastrowardoyo menempatkan Si anak hilang itu sebagai sosok yang eropa mesti ia pun kangen dengan kampung halamannya di Indonesia. “Hanya jasmani anak itu yang kembali ke tengah keluarga dan desanya, tetapi jiwanya masih tetap tinggal di eropa,” kata Subagio (Subagio,1980:100).

Di sebuah restaurant, Sitor mungkin bertemu dengan orang-orang baru, namun yang membuat Sitor kasmaran adalah mengingat puisi dan penyairnya. Seperti saat Sitor teringat akan Apollanaire dengan sajaknya hadir bersama di restauran itu. Ingat, penyair akan hadir di kota dan mengingat perubahan kota melalui imaji “kilas balik” melalui sajak. Barangkali setiap kota adalah kampung halaman bagi penyair. Sitor pun menulis sajak,

Akankah aku ikut latah?- berkata:
Paris Sudah berubah!
30 tahun kemudian, aku kini
kembali
di peron yang sama, hanya

Kau tak ada.
(Paris 1977 (chanson kecil) )


Posted on Selasa, Maret 31, 2015 by Rianto

No comments