Selasa, 12 November 2013


 


"Menghadapi kekejian yang tidak manusiawi, manusia harus melakukan penentangan. Manusia tidak boleh diam. Dia yang diam dan membisu menghadapi kenyataan ini telah menyangkal tanggung jawabnya sebagai manusia" (Ernst Toller)

Tentu kita ingat nama S.Sudjojono di LKS SD atau SMP. Seingat memori kita itu Sudjojono selalu berdampingan dengan nama-nama pelukis besar lain, sebut saja Affandi atau Basuki Abdullah. Atau memang kini kita sudah melupakan sosok yang 'galak' dalam ide-ide seni lukis Indonesia yang pernah tersangkut prahara 65 ini.

Sudjojono merupakan pelopor berdirinya PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang didirikan tahun 1937. Belum lama, sekitar sebulan yang lalu lukisan-lukisan S. Sudjojono kembali di pamerkan di Galeri Nasional dalam tema "Jiwa Ketok dan Kebangsaan" S.Sudjojono, Persagi dan Kita.

Ini menarik. Kita bisa kembali dalam refleksi kebangsaan dengan melihat lukisan-lukisan 'ganas' Sudjojono yang berbicara tentang lahirnya angkatan 66 misalnya. Atau melihat sejenak kehidupan sehari-hari yang coba Sudjojono gambarkan dalam lukisan "Makan Nasi".

Menurut Sudjojono, jika kalian melihat lukisan-lukisan dan mengagumi karyanya, sebetulnya yang kalian kagumi adalah jiwa pelukisnya. Itulah jiwa ketok. Dalam karangan Sudjojono berjudul Kesenian, Seniman dan Masyarakat, Sudjojono menulis,

Makan Nasi. S.Sudjojono.1956
..Kalau Seorang Seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian ialah jiwa ketok. jadi kesenian ialah jiwa... (Seni Lukis, Kesenian dan Seniman, Aksara Indonesia 2000)

Pun tulisan tersebut untuk menjawab pengertian kesenian yang memang susah sekali dijawab. Lalu mengapa ketika melihat gambar/lukisan pada saat itu juga kita dapat melihat, mulai mengobrol tentang kehidupan sehari-hari yang dapat  dimaknai secara budaya, secara teks humanisasi . Kita dapat menelaahnya kembali jawaban itu dalam tulisan Sudjojono yang mengambarkan biografi pendek Vincent van Gogh.  Belajar dari Vincent inilah, melukis bukan hanya kerja keindahan/kebagusan juga merupakan kerja kemanusiaan.

Suatu ketika Vincent bertemu dengan seorang pujangga bernama Zola. Dalam obrolan Zola berkata,

..."Kalau tuan menggambar kebagusan seorang perempuan sama dengan saya menceritakan kebagusan si perempuan tadi sebagaimana juga saya lihat sehari-hari. Tokoh saya itu akan saya ceritakan juga umpamanya, bahwbagai perempuan yang kita kenang-kenangkan, lalu cerita tadi saya baguskan-baguskaa dia pernah sakit kudis, pernah 'lupa' dikatakan: God ver Dom! Saya ceritakan ia tidak sen, akan tetapi saya ceritakan dia sebagaimana perempuan tadi hidup biasa, bukan?"

Vincent pun menjawab,

"Memang, mesti saya gambar perutnya umpamanya tidak seperti perut bidadari, akan tetapi sebagai perut orang perempuan biasa yang berusus" (dari tulisan Sudjojono "Vincent van Gogh (29 Juni 1890) Aksara Indonesia 2000)

Dari tulisan Sudjojono itulah dapat kita lihat sebagai semangat realisme. Melukis realitas. Jadi melukis bukan saja melukis tentang keindahan dan kebagusan, justru disitulah terletak realitas yang memanggil jiwa sang pelukis untuk digoreskan kenyataan hidup manusia. Jadi kebenaran dulu barulah bicara kebagusan.

Menariknya bagi saya Sudjojono bukan hanya pelukis. Sudjojono adalah seorang guru. Guru yang seperti apa? Mia Bustam mengenangnya seperti ini,


(Repro) High Level. S.Sudjojono.1973.
Cara Mas Djon mengajar  tidak seperti pengajaran guru-guru gambar atau kebanyakan pelukis yang lain. Guru gambar yang berdiploma selalu akan mengajarkan perspektif dulu. Dan banyak pelukis menekankan cara melukis mereka sendiri kepada murid-muridnya. Mas Djon tidak. ia memberi model atau obyek. Misalnya sebuah botol di meja, atau rumah di pinggir jalan. Mereka dibiarkan melukis menurut pengamatannya masing-masing. Tanpa dibebani teori perspektif sebelumnya. Yang selalu ditekankan Mas Djon hanya "gunakan baik-baik matamu" (Sudjojono dan Aku, ISAI 2013)

Pada saat mengajar itulah Sudjojono juga melempar anekdot-anekdot atau sejarah para pelukis seperti Rembrandt, Leonardo da Vinci, dan van Gogh. Ini menandakan keluasan literasi dari Sudjojono.

Kembali dalam tulisannya yang tentang Van Gogh ia pun bercerita bagaimana van Googh keluar dari akademi saat di Antwerpen. Menurut van Googh akademi itu hanya suatu insteling, untuk mengajar mahasiswa-mahasiswanya menggambar seperti kemauan gurunya saja, tetapi tidak menggambar atas kemauannya sendiri.

Oleh karena itu dalam mengajar mengambar, bukanlah untuk mencetak Affandi-Affandi dan Sudjojono-Sudjojono baru. Melainkan mencetak Kodir, Agus, Suprapto, yang mempunyai jiwa ketok sendiri. Jadi Kodir, Agus, dan Suprapto ini dapat mengembangkan pribadi-pribadinya sendiri.

Ada Orkes. S Sudjojono.1970
Melihat lukisan Sudjojono di pameran waktu itu bukan saja melihat keindahan-keindahan lukisan. Jauh dari itu, kita bisa memaknai lebih dalam. Sosok Sudjojono atau pun lukisannya mungkin saja hanya benda saja yang tak bunyi. Coba kita cermati lebih dekat, lukisan-lukisannya memanggil kita untuk terus membaca pikiran, membaca ide sang pelopor seni lukis modern ini dalam kacamata kebudayaan, membaca secara keindonesiaan. 

Semangat Sudjojono dalam literasi menjadi contoh bagi guru-guru kebudayaan manapun untuk terus membuktikan bahwa seni lukis Indonesia pernah ada. Mengurai terus kesalahan nenek moyang kita yang jarang  menulis. Jarang sekali melihat pelukis seperti Sudjojono, pelukis yang mau menulis tentang seni lukis Indonesia.Dia tidak hanya melukis, ia mengores pena agar tulisan itu menjadi penyambung imajinasi sejarah seni lukis Indonesia. Dari Sudjojonolah ingatan itu terus terawat.  Mengeras terus semangat literasi itu. Tabik!

*Semua Foto diambil saat penulis mengunjungi Pameran di Galeri Nasional "Jiwa Ketok dan Kebangsaan" S.Sudjojono, Persagi dan Kita. Merayakan 100 tahun S. Sudjojono.

Referensi
Mia Bustam.Sudjojono dan Aku. 2013. ISAI.
S.Sudjojono. Seni Lukis,Kesenian dan Seniman. 2010.Aksara Indonesia.

Posted on Selasa, November 12, 2013 by Rianto

No comments

Minggu, 10 November 2013

Aristoteles mengatakan manusia adalah makhluk politik. Politik yang diharapkan Aristoteles pun yang mampu menyelenggarakan kemakmuran dan keadilan. Artinya politik yang tidak’politis’. Saat ada praktik politis itu mahasiswa menjadi garda terdepan untuk mengajukan protes dengan melakukan demonstrasi di jalan-jalan.

Sekarang kita ingat mahasiswa sering dicap jelek saat berdemo. Justru pada saat itulah mahasiswa coba mengaktifkan akal sehatnya dalam bentuk protes. Justru  di situlah salah satu  peran mahasiswa sebagai bagian intelegensia. 

Persis yang dikatakan Arief Budiman dalam aksinya  mahasiswa menggabungkan kritik dengan aksi-aksi massa. Dengan begitu mahasiswa menjadi kekuatan yang terus menjadi kekuatan yang menentang kekuatan penguasa.  

 
Jika hari ini ada iring-iringan anak muda yang berdemo berteriak anti sumpah pemuda. Sudah saatnya mahasiswa sebagai pemuda  untuk berfikir sehat. Justru di sumpah pemuda itu bisa kita hayati sebagai fundamen historis mentalitas berpolitik  yang mengaktifkan akal sehat kaum muda. Inilah politik anak muda.

Jika hari ini kita jijik melihat spanduk-spanduk calon legislatif di jalan-jalan, di tahun politik ini bisa jadi ajang mahasiswa berdialog dan beradu  gagasan dengan mereka. Jangan-jangan mereka yang di spanduk-spanduk itu ‘monster’ yang siap menyerang negeri ini dengan praktik-praktik korupsinya. Politik pun hilang titahnya sebagai penyelenggaraan kemakmuran dan keadilan. Jadi yang kita ingat politik hari ini adalah politik itu kotor.

Kalaupun jalan politik menjadi jalan membangun negeri, haruskah  mahasiswa mesti aktif di politik? Pertanyaan mendasarnya politik yang seperti apa? Ahok dalam suratnya menyebutkan yakni politik yang jujur, bersih dan melayani. Jadilah  politikus yang berjuang untuk keadilan sosial, bukan untuk kekuasaan dan kekayaan (Surat dari dan untuk Pemimpin, Tempo Institute). Mahasiswa harus berani menjadi politikus.

Terkadang politik itu menjadi barang haram bagi mahasiswa. Jalan terbaik yang bisa ditengahi adalah apapun profesi yang mahasiswa geluti kelak maka  jadilah yang terbaik dibidang apa pun. Membangun negeri tanpa orang-orang terbaik sulit dikatakan perubahan dapat terwujud.  Contohnya jika kita mahasiswa calon guru maka jadilah guru yang terbaik yang wawasannnya luas dengan terus berliterasi, terus mengembangkan imajinasi anak didiknya. Begitu.

 *Tulisan ini masuk di rubrik poros mahasiswa Seputar Indonesia (koran Sindo) 8 November 2013

Posted on Minggu, November 10, 2013 by Rianto

No comments

Kamis, 03 Oktober 2013


GERIMIS YANG MELUNCUR di papan besar bergambar Ronald McDonald yang terkenal itu menjadi gambar yang begitu membosankan bagi seorang Paman Asia berkaos biru bertuliskan “CHE” yang duduk-duduk di sebuah  kedai kopi dengan jendela-jendela uniknya yang berwarna coklat dengan kaca yang kebinar-binaran.

Sebab bosannya normal saja, di manapun ia selalu bertemu dengan gambar Ronald McDonald, di papan besar, di bandara ibu kota pertama kali ia mendarat, di rumah sakit, di bus-bus sekolah,  bahkan di cangkir kopi tempat di mana ia sedang duduk-duduk saja Ronald McDonald selalu ada. Ini ajaib, katanya.  Di televisi Ronald mirip politikus, penyihir kapitalisme papan atas.

Ya  di seberang papan besar Ronald McDonald itu, ada  perempuan yang sedang  ia tunggu lengkap dengan keranjangnya. Sedari tadi masuk toko kelontong sebelah  Drive in.

 Jika saja matahari sore ini datang memasuki celah-celah kaca jendela, bisiknya dalam hati. Pastinya cahaya itu bakal dibuatnya berbelok-belok,  membentuk seperti jalan-jalan aspal yang panjang di bukit-bukit. Jalan yang terbuat dari cahaya imajinasi. Dan ia sengaja memindahkan, mengumpulkan cahaya di cangkir kopi bergambar Ronald McDonald. Kebiasaan itu lagi. 

Pastinya suasana unik yang selalu membayang-bayang  imajinasi palupinya saat bermain-main cahaya akan memecahkan pagi tadi yang begitu redup karena mendung. Kini Paman Asia tidak bisa bermain cahaya sore di cangkir-cangkirnya. Hingga sorenya dilalui saja dengan duduk–duduk sambil membolak-balik buku telpon.

Lalu, seorang perempuan kulit putih keluar dari pintu toko kelontong seberang tempat duduknya. Dari jendela jua, Paman Asia melihat gerimis menyapa perempuan itu lebih dulu.  Perempuan kulit putih yang  membawa sebuah keranjang. Betul keranjang yang agak besar. 

Perempuan itu menunggu sejenak di bawah papan besar  Ronald McDonald,  merapikan barang-barang di keranjangnya dan merapikan kancing  baju  tebalnya. Tak lupa rambutnya.  Beberapa kali ia menepuk-nepuk baju tebalnya yang kotor karena debu.  Suasana  Drive in yang agak ramai, kebanyakan anak muda,  membuatnya timbul tenggelam bersama lalu-lalang mobil-mobil.

Perempuan kulit putih itu tersenyum membuka tas kecil melambai sapu tangan  kepadanya. Paman Asia membalas dengan mengangkat tangan. Tanda untuk segera duduk-duduk bersamanya.

Dari dekat, perempuan kulit putih itu mengenakan baju tebal dengan bulu-bulunya sebagai penghalang hujan dan dingin. Alisnya yang tipis, rambut yang panjang bergelombang, bibir yang tipis pula tersenyum sambil mencium pipi Paman Asia dengan  mesra. Duduklah  ia mengobrol-ngobrol. 

“Apa yang kamu dapat?” Paman Asia memulai pembicaraan.

“Banyak sekali,” jawabnya singkat.

Perempuan kulit putih itu banyak menunjukan barang-barang yang  ia beli dari toko kelontong.  Jam tangan, jam beker, sepatu  kulit, seragam tentara, dan tak lupa mainan-mainan kecil. Sementara deru-deru suara mobil  yang keluar dari Drive in seperti menenun gerimis yang membuat sikap Paman Asia melaju dingin seperti ban-ban yang melaju pelan di aspal.  

Percakapan mengenai barang bekas seperti ini sebetulnya selalu dinantinya.

Terutama barang bekas yang meninggalkan jejak perang. Perang dunia pertama, Perang dunia kedua, perang saudara di Afrika, jatuhnya Bom Hiroshima dan Nagasaki. Tulisan feature pasca jatuhnya Bom Hiroshima dan Nagasaki oleh Jhon Hersey dari majalah The New Yorker menjadi pengetuk hati sepasang kekasih itu pergi ke Negeri Sakura, mengantarkan kimono tua milik korban bom yang didapatinya di sebuah pameran bulan oktober di Munich Jerman. 

Jam tangan,  jam beker, sepatu kulit, seragam  tentara, membuat mereka merasa asik membicarakan pemilik barang bekas yang dulu. Mulai dari kesan pertama apiknya barang-barang bekas itu saat  dijaga pemiliknya sampai imajinasi di mana barang bekas itu sudah dilupakan akibat perang. Kenapa dilupakan? Mungkin saja bukan dilupakan, hanya tertinggal. Hanya saja semudah  itukah  memori manusia. Mudah lupa, mudah pula mengingat.

“Bukankah itu hal yang lucu sekaligus tragedi, layaknya kisah Alice in Wonderland?,” kata Paman Asia .

“Ya, ya.. aku pun membayangkan seperti itu,” perempuan itu menyahut dengan senyum-senyum lebarnya. 

Dengan tanggap ia membungkus barang-barang bekas agar terlihat rapi, tak lupa mengelapnya juga.“Aku menyukai pekerjan  ini. Aku menyukainya,” sambil membungkus. 

“Lalu adakah jejak-jejak perang yang ditinggalkan pemiliknya, tulisan-tulisan, nama, tanggal,  lalu kita cari alamatnya. Ya alamatnya,” Paman Asia itu mulai bergairah.

“Tunggu dulu!” perempuan itu menyela, “Jangan lupa, bukankah kita  malam  ini akan mengunjungi rumah Alann Klitckhof. Benarkah alamatnya di  Meriddian Flannel No 5? Surat-surat dan tamagochi ini  harus sampai padanya bukan?”

Di mata Paman Asia, perempuan itu begitu cerdas. Paman  Asia menyukainya.

Ada yang janggal,  perempuan itu seperti sedang  ragu untuk mengungkapan hal yang penting. Penting sekali. Tapi belum dapat celah karena Paman Asia sedang bergairah dengan catatan dan buku telpon.

Saat membungkus sering kali bola mata perempuan itu mencuri tatapan,  melihat wajah Paman Asia  yang juga sibuk membuka buku telpon.  Namun senyum, kerut dahi plus alis perempuan itu yang naik seakan memberi makna berbeda. Lihat saja, saat Paman Asia membalas tatapan itu. Taktik yang selalu sama yang dilakukan oleh perempuan  manapun.

MALAM SEHABIS SEHARIAN HUJAN. Pukul tujuh lebih tiga belas menit di sebuah jarum jam hitam metalik  yang besar di stasiun kota ini, mereka naik taksi menuju jalan  Meriddian Flannel yang basah aspalnya. Sepasang  kekasih itu menuju rumah Alann Klitckhof. Tak henti-hentinya mereka membicarakan kereta yang baru saja mereka naiki. 

Taksi berhenti di sebuah rumah yang agak kecil dengan pagar putih lancip menjadikannya  lebih unik dibandingkan dengan deretan rumah lain di sekitarnya. Ya  itulah rumah Alann Klitckhof. Tamannya bagus. Tumbuh bunga-bunga lengkap dengan  rumput-rumput yang selalu basah. Tak ada garasi. Padahal di kota ini hampir semua penduduknya mempunyai mobil. Industri mobil di negara ini sedang maju-majunya. Menurut supir taksi tadi, kredit mobil, rumah, juga sangat mudah.  

Jalan mulus di depan  halaman rumah Alann Klitckhof itu bakal terlihat batu-batu granit besar tertanam di halamannya, tentunya setelah melewati pintu pagar yang putih lancip lengkap dengan tempat surat yang berdiri gagah di depan pintu pagar, sepasang kekasih itu menemui tangga kecil dengan dua-tiga langkah kaki tingginya. Setelah menaiki tangga ada sebuah bangku panjang dari kayu dengan koran-koran yang bertumpuk begitu saja barulah bisa terlihat. Oh ada juga dua kucing berbulu cantik sedang bermalas-malasan dengan makanan kucing di piring yang belum habis disantapnya. Naluri mencintai binatang  perempuan itu pun muncul, mengelus-elus bulu si kucing, sementara jari telunjuk Paman Asia menekan bel.

Bel pun berbunyi.  Sambil menunggu, perempuan itu tersenyum  ke Paman Asia.

Perempuan itu merapikan kemeja Paman Asia. Pun topinya. Paman Asia membalasnya dengan kecupan di kening. Tentunya mereka tetap bergandengan.

Seorang Bapak dengan kumis tebal dan kepalanya yang hampir botak membuka pintu.

“Apakah benar ini rumah Alann Klitckhof?” tanya perempuan itu dengan bahasa lokal yang terbata-bata terbalut senyum dan semangatnya.

“Ya benar, itu saudara kembarku,” jawabnya cepat.

 “Silahkan  masuk,” ajaknya ramah.

Sejam. Dua jam. Sepasang kekasih itu bersenda gurau dengan kembaran Alann Klitckhof yang berkisah seputar  isi surat-surat dan tamagochi Alann Klitckhof.

“Alann Klitckhof? Si Badut lucu itu  memang selalu melakukan hal-hal bodoh,” tutur Paman Bred memberitahukan kisah menarik tentang kembarannya itu. 

Alann Klitckhof, ia lihai membuat tertawa siapa saja. Alann Klitckhof  dikenal tenaga medis, tetangganya sering memanggilnya, “Hai Badut Medis selamat pagi!” tutur adiknya terkekeh. 

Saat kota ini menjadi pusat perang, saat pesawat-pesawat tempur fasis menggempur kota, Alann Klitckhof dikenal sebagai badut medis. Ia berdandan seperti badut menghibur anak-anak korban perang sambil sibuk sana-sini membawa obat, begitu juga saat mengangkat mayat. 

Di meja-meja penuh dengan makanan kecil dari gandum dan kacang-kacang, keju dan  susu.  Tak lupa minuman bersoda seperti coca-cola selalu hadir di negara ini. 

Sepasang kekasih itu pun pulang dengan bahagianya. Mereka mendapatkan teks-teks yang menarik. Teks-teks yang mampu berbicara di radio. Menggantikan pidato-pidato yang tak berguna dari anggota parlemen yang menjijikan.

“Apa tadi kau merekamnya,” Paman Asia itu menanyainya.

“Ya, aku merekamnya. Paman Bred juga lucu. Meski Alann Klitckhof belum pulang dari perantauan sirkus kelilingnya. Bulan depan mungkin kita akan menemuinya lagi. Kata Paman Bred, Alann Klitckhof akan mengirimi kita surat. Jadi tunggu saja.”

“Surat-surat dan tamagochi itu?”

“Itu juga sudah aku titipkan kepada Paman Bred. Saat  itu kau keluar mengangkat  telpon dari  redaktur.”

Pintu Paman Bred masih terbuka saat ia mengantar sebentar sepasang kekasih itu meninggalkan rumahnya yang berpagar putih lancip. Sepasang kekasih itu bergegas menaiki taksi yang sudah ditelpon Paman Bred. Mengantar mereka ke  stasiun kereta yang bakal berangkat pukul 11 malam ini.
Di tengah-tengah cerita kekaguman mereka dengan kereta-kereta lagi, Perempuan itu menceritakan  hal yang tertunda sore tadi.

“Aku ingin menceritakan sesuatu,” tutur perempuan itu. 

Menurut tutur penjaga toko yang ditemuinya sore tadi,  toko kelontong itu akan dijualnya. Begitu juga toko-toko di sekitarnya. Perusahaan fast food  memberikan penawaran yang  ‘tidak biasa’. Begitu menggairahkan. Toko kelontong tadi yang dikunjunginya untuk  membeli barang-barang bekas berupa jam  tangan, jam beker, seragam tentara,  katanya juga akan disulap menjadi sebuah taman bermain untuk anak-anak. 

Bila jadi, toko itu akan tertanam di memori Perempuan itu saja saat bangunan fisik diratakan.

“Taman bermain seperti Disney, Ronald McDonald?”

“Ya betul…”

“Ini gila, sore tadi saat duduk-duduk aku sudah memikirkan hal itu,” jawab  Paman Asia sambil mengangguk-angguk, membuka topinya, berjalan, berpikir tajam  memasuki pintu kereta. 
***
Cerita pendek ini masuk dalam 13 nominasi lomba cerpen se Jawa-Bali 2013 yang diadakan oleh UKMP Malang


Posted on Kamis, Oktober 03, 2013 by Rianto

No comments

Senin, 23 September 2013

Sudah pasti kita mengenal sederet nama berikut: Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bachtiar, dan W.S Rendra; sebagai tokoh-tokoh besar dalam ranah kesusastraan kita. Sumbangan karya-karya mereka seharusnya ditempatkan pada ‘ruangan’ yang-semestinya, selain patut untuk sekedar diacungi jempol. Misalnya: pemberian ruang apresiasi dalam hal pengkritikan sastra. Yang bersifat secara umum, ataupun teoritis.

Upaya dalam pengarangan karya-karya oleh keempat penyair tersebut –yang berbentuk sajak– tentu memiliki sebuah “kondisi” dalam kelahirannya. Yakni bagaimana penyair menganggap dirinya di tengah lingkungan masyarakat dan buday
anya. Demikian keberadaan si sosok pengarang –yang-pribadi– ditampilkan: pada “kondisi” tersebut. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana memperlihatkan soal ”kondisi” sosok-yang-pribadi?

Inilah yang Subagio Sastrowardoyo (SS), coba untuk mengungkap penyosokan kepribadian mereka. Dalam buku serial kritik: Sosok Pribadi Dalam Sajak. Di antara ulasan-ulasannya, pernah termuat di majalah Budaya Jaya tahun 1973-1974 dan 1976. Perhatian SS terhadap empat penyair tersebut, semata-mata demi kelangsungan hayatnya. Tulisnya di pengantar buku:

“...Hanya karya sastra yang tak sanggup menarik perhatian atau yang telah terbenam di bawah debu sejarah, yang terhindar dari perlakuan penilaian...” (hlm. 8)
*
Pembahasan pertama dimulai dengan Chairil Anwar, bagaimana sosok kepenyairannya yang berorientasi pada kebudayaan sastra barat. Namun, SS takzim dengan rendah hati. Ia tulis di kalimat pembuka, “Ini bukan kecaman terhadap Chairil Anwar. Kurang keberanian dari saya untuk mengutik-utik kedudukan tokoh sastra yang kenamaan itu...” (hlm. 11)

SS menilai, pemikiran Chairil dalam menyajak bertolak dari kebudayaan yang Indonesia-Eropa, yang Pribumi-Asing, yang Timur-Barat. Sebab tak bisa dipungkiri lagi bahwa sejak kota di Indonesia –representasi dari tempat Chairil bersajak– terjajah pada zaman kolonial, ia merupakan perpaduan dua unsur budaya.

Perspektif SS tak berhenti pada “keadaan” dua budaya yang memungkinkan Chairil dapat bersajak. Secara tangkas dan penuh kejujuran, SS melihat ekspresi gerak batin dalam Chairil:
“Kematangan pengalaman bersajak penyair angkatan ’45 ini terbukti juga pada cara mengucapkan diri yang lebih padat dan langsung. Hal ini terutama kentara pada kenyataan makin hilangnya gejala perbandingan yang sekedar menjajarkan dua barang yang serupa, dengan mengucapkan yang lebih lazim dalam bentuk metafora, yang pada dasarnya menyatukan hakikat dua barang. Chairil Anwar tidak mengatakan “Aku ini seperti binatang jalang”, melainkan lebih langsung menghujam pada hakikatnya “Aku ini binatang jalang”. Dengan demikian, gaya ucapannya lebih kental.” (hlm. 38)
Di samping itu, yang-estetik dari logat Chairil, mengacu pada ke-alamsemesta-an. Gerak batinnya tersebut, terdorong oleh intuisi yang muncul dengan kehendaknya. Chairil pun bersajak dari peleburannya dengan alam semesta. Seakan ia menyatu dengan irama –alam semestanya.

Intuisi yang dengan alamiahnya muncul tersebut, akan mengalamatkan kepada Chairil; bahwa kapan ia bangkit sebagai penyair, dan kapan pula ia berakhir. Tulis di sajaknya yang dibuat pada tahun kematiannya (1949); “Yang Terampas dan Yang Luput”: ...tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Demikianlah Chairil, (dan teman se-angkatannya), dipengaruhi oleh budaya barat. Mereka humanisme yang universal –begitu kata SS. “Dengan meninggalkan sajak-sajak demikian pada akhir hidupnya, maka orientasi budaya Chairil yang hendak berpusat di benua Eropa telah pula berlalu beku.” (hlm. 55)

*

Sitor Situmorang. Pembahasan berlanjut untuk sastrawan ini. Menurut SS dalam esainya berjudul “Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor”, sajak-sajak Sitor merepresentasikan bahwa ia adalah “manusia terasing”. Berangkat dari unsur eksistensialisme yang terlekat dalam karya-karyanya.

Dalam “Sajak Gadis Itali” misal. Pantun ini bersampir dengan “...arti dan bunyi katanya membayangkan latar belakang ketempatan dan latar belakang kejiwaan...” (hlm. 58). Yakni, suasana di teluk Napoli, Italia.

Akan tetapi, Sitor lebih mengiblat pada Perancis. Yakni ketika Sartre dan Camus bilang bahwa hidup adalah Absurd. Maka Sitor –dalam penokohan Basuki dalam Lakonnya, Jalan Mutiara– menyatakan kehilangannya terhadap kepercayaan dari, dan untuk Tuhan. Basuki menentang takdir dengan caranya bunuh diri. Kutip SS dalam lakon Jalan Mutiara:

“...jika kita sendiri tak berkuasa menolak kelahiran kita, mencegah adanya kita di dunia ini, kebebasan yang tersisa ialah mengakhirinya sendiri.” (hlm. 127)

Persoalan bunuh diri, setidaknya mengingatkan kita akan esai-esai Camus yang terhimpun dalam Le Myth de Sisyphe (Mitos Sisiphus) –yang bersoalan dengan bagaimana mengatasi Absurditas. Sepertinya, pengaruh Camus dalam penokohan Basuki-nya Sitor, menobatkan dan mempertegaskan dirinya bahwa Sitor adalah “manusia terasing”.
*
Kemudian SS membahas kepenyairan Toto Sudarto Bachtiar. Yang memperlihatkan bahwa penyair Toto berhati sabar. Yakni menerima nasib. Berangkat dari sajak “Malam Laut” yang bersuasana gagah: “...Karena laut tak pernah takluk, lautlah aku/ Karena laut tak pernah dusta, lautlah aku...”

Individualitas penyair, “...tidak berkeinginan hendak melawan serta mengubah keadaan, melainkan tinggal mencatat serta menerimanya,” –begitu SS bilang. Kesabaran Toto adalah sahaja, “...dari rangka kesadaran hidup dan dunia yang berseluk-seluk.” (hlm. 144)

Dalam situasi kesusastraan Indonesia ketika SS menulis Sosok Pribadi Dalam Sajak, sikap Toto yang sahaja telah membuatnya terpukau. Sebab ditulisnya, Toto sendiri telah merintis pencarian ilham sebagaimana ia membuka jalan perkembangan baru yang kemudian ditempuh penyair setelahnya. Semisal Ajip Rosidi, Rendra, Ramadhan K.H.
*
Sementara terakhir, Rendra terulas sebagai pribadi yang kekanak-kanakan, di balik lantang persajakannya. Demikian SS menulis dalam “Kerancuan Pribadi Rendra-Lorca”.

Banyak diurai SS, bahwa metafor-metafor yang ditempatkan Rendra dalam persajakannya, adalah dunia utopisnya.

Menurutnya, kesan yang ditujukan kepada sajak-sajak Rendra lebih banyak berperan khayal daripada angan-angan. Yang dimaksud di sini, perbedaan fancy dan imagination yang dianggap kritikus-kritikus di zaman Romantik Inggris, melihat “khayal” sebagai permainan angan-angan yang lebih ringan serta kurang sungguh-sungguh. SS menguatkan hal ini dengan mengutip apa yang dikatakan Coleridge berkenaan akan-hal-itu:

“...good sense is the body of poetics genius, fancy its drapery, motion its life, and imagination the soul that every where, and in each.” (hlm. 211)

Balada-balada Rendra yang terhimpun dalam kumpulan sajaknya yang pertama, “Ballada Orang-Orang Tercinta”, ditegaskan SS sebagai peniruan atas berbagai segi subyektif pada balada-balada Federico Garcia Lorca (1899-1936), penyair kenamaan Spanyol.

Citra Rendra terjatuh di sini, manakala SS secara cermat membandingkan karya keduanya. Tulisnya: “...Balada-balada Rendra membayangkan suasana perasaan yang sama. Rendra rupanya tidak pernah mengenal tragedi di dalam kehidupannya. Gerak jiwanya, yang tinggal pada permukaan hidup, menjaganya sehingga tidak terperosok ke dalam perasaan hidup yang murung dan sedih. Penglihatan hidupnya seperti yang ada pada anak yang tak bersalah, yang menikmati pesona dunia tanpa sadar akan bayangan-bayangan gelap yang mungkin merundung di belakang setiap pengalaman.” (hlm. 199)

Dengan penuh nada-nada satire, tulisannya (SS) ditutup, “...Rendra terlalu banyak berpulas dan berjingkrak-jingkrak di atas pentas sastra, di hadapan publik yang disangkanya terlalu dungu untuk bisa membedakan antara permukaan dan gerak-gerik yang sungguh-sungguh dan yang pura-pura.” (hlm. 212)

*
Meski demikian, Sosok Pribadi Dalam Sajak telah serta-merta berbicara yang-pribadi, yang-kritis. Pembaca patut menempatkan buku ini pada garda depan barisan literatur susastra kita. SS mencipta proses yang-kreatif: buah kritik menyoal “sosok pribadi” yang dalam sajak keempat tokoh sastra kita; yang barangkali belum pernah dipikirkan penyair se-generasinya.

Bagi pengamat sastra: yang pemula dan yang telah bergiat; pekerjaan rumah selanjutnya adalah: bagaimana kita terus menyikapi karya sastra. Dengan cara mengapresiasi. Penyair Subagio Sastrowardoyo telah membuktikan akan-hal-itu. Bagaimana kita?






Judul: Sosok Pribadi Dalam Sajak
Penulis: Subagio Sastrowardoyo
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun: 1980

Jakarta, 19 September 2013
*Oleh Rahmat Mustakim, terimakasih resensi koleksi buku saya ini. 

Posted on Senin, September 23, 2013 by Rianto

No comments

Jumat, 13 September 2013


Di masa sekolah tentu kita ingat dengan seremonial upacara bendera di hari senin. Di mana upacara ini menjadi kidhmat saat bendera sang merah putih dikibarkan dengan nyanyian merdu "Indonesia tanah airku.." menambah getar keindoensian.

Terlebih saat 17-an, kita semua diajak oleh guru-guru kita untuk memadati alun-alun, kembali melaksanakan upacara bendera.Uniknya kita merasa dikembalikan pada masa revolusi saat getar-getar  teks proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno melalui rekaman ataupun pembacaan teks oleh petugas upacara.

Namun sayangnya pemaknaan kemerdekaan itu sepintas lalu saja pada seremonial upacara. Setelah itu kita disibukan dengan bermacam-macam perlombaan. Ataupun didendangkan merdu suara biduan dangdut yang sengaja sudah disewa (oleh pejabat) untuk memeriahkan kemerdekaan. Kita pun akhirnya banyak dikecewakan dengan pidato remeh-temeh pejabat yang menjurus pada usaha politis "Pilihlah Aku di 2014."

Hilanglah sudah makna suara Bung Karno yang sepintas lalu kita dengar di upacara bendera karena redam suara biduan  dan pejabat yang gebyar dengan panggung-panggungnya. Inikah yang  disebut dengan estetisasi sebagai negara panggung telah merasuk ke pola pikir kita dalam mengungkapkan kemerdekaan dalam bingkai estetisasi yang diketahui pola pikir ini berasal dari watak dan perilaku kolonialis? Disinilah kita pun terkenal dengan negara gebyar.

Persis wacana gebyar berpesta ria ala kolonialis ini dilakukan oleh raja-raja untuk menunjukan rsa hormat terhadap VOC yang menutupi kenyataan bahwa kita terjajah teritorial. Oleh karena itu kita harus berfikir ulang mengenai semangat kemerdekaan yang dibumbui dengan estetisasi yakni memberi tampilan hias yang cantik pada pangung-pangung tapi kita kehilangan makna yang sesungguhnya mengenai kemerdekaan. Sebagai Homo luden kita berhak untuk bermain-main mengikuti perlombaan untuk memeriahkan kemerdekaan, namun kita patut pula bertanya dalam hening wacana apa dan siapa yang dibawa ini? Begitu.

Posted on Jumat, September 13, 2013 by Rianto

No comments

Sabtu, 17 Agustus 2013



MORRIEM 12 Agustus 1923, sebuah koran lokal pertama menulis sebuah artikel berita.  Tubuh gempal berbulu dada itu terkujur kaku dengan sebilah pisau di punggungnya. Berita itu menampilkan foto hitam putih sebuah mayat yang  dikerumuni semut-semut, tergeletak di seberang sungai Leris, sungai terpanjang di daerah itu yang mengalir tenang


Dituliskan di halaman depan, menjadi headline. Terkabarkan tubuh gempal itu mati seperti disiksa, tak diketahui pelakunya. Foto hitam putih itu bisa tergambar jelas, mayat bertubuh gempal itu masih menyisakan darah segar yang mengalir di kepalanya, tembus timah panas. Darah dari kepalanya menyatu dengan aliran sungai yang tenang, memerah, menyebar dan menghilang terbawa arus tenang sungai, sedangkan darah yang keluar dari hunusan pisau yang masih tertancap di punggungnya merembas menyatu dengan kemejanya. Dan semut-semut yang mengerumuninya seperti terlihat julur  lidah-lidah yang sedang bernafsu menjilat-jilat darah segar itu.


Di sekitar mayat bertubuh gempal yang terbujur kaku itu menyisakan tanda jejak-jejak kaki binatang yang diketahui jejak Harimau. Jejak itu tumpang tindih dengan jejak bersepatu yang diduga pelakunya. Persis bau kencing di tubuh gempal itu pertanda kekuasaannya sudah sampai ladang Tuan Morf. Ladang dimana tubuh gempal itu bekerja sehari-hari.


Orang-orang mengerumuni mayat itu sedari pagi seiring anjing-anjing kampung milik penjaga ladang meraum-raum tajam, tak tenang semalaman. Bahkan anjing-anjing itu tak berani mengendus mayat yang terbujur kaku, teronggok dibiarkan begitu saja. Anjing-anjing tak ada yang berani mendekati mayat itu, jelas bau air kencing menjadi tanda simbol kekuasaan  dari Harimau.  Hanya terdengar sayup-sayup suara dari obrolan –orang-orang yang datang bergumul saat itu. Mereka  mengaku kepada wartawan sebagai saksi hidup. Tidak ada yang berani menjadi saksi kematian!


Sekaligus tidak berani berasumsi siapa pembunuh si tubuh gempal itu, sebelum pemilik ladang, seorang kaya Tuan Morf datang memeriksa langsung dan melaporkan kejadian itu kepada goverment serta wartawan lokal.


Tubuh gempal yang belum busuk itu seakan-akan bau kabar burung dugaan siapa pelakunya masih menjadi misteri,  belum tercium sekitar kampung, jua sekitar pekerja ladang. Ini pertanda buruk. Serta menjadi berita tak sedap bagi sisa-sisa jago berkelahi, mereka yang  merupakan pensiunan tentara-tentara perang.  


Sehingga yang sedang berkumpul sore itu 13 Agustus  1923, mereka semua  yang sebelumnya bergumul menjadi satu dalam ketakutan, mendadak berkumpul duduk-duduk sambil bermain cekih di Rumah Tuan Morf. Mereka datang karena uang, mereka adalah pemburu para bandit, mereka di sewa dan menunggu perintah Tuan Morf untuk menyelidiki kasus ini, -tanpa pengetahuan government-. Government selalu mengambil keuntungan dari kasus seperti ini. Apalagi Tuan Morf harus membayar pajak tiap tahunnya. 


Kabar kematian? Tentunya itu pun mengandung pajak yang harus di bayar pemilik ladang seperti Tuan Morf. Tentunya itu besar.


Merebak kabar, satu nama disebut dari obrolan-obrolan yang lambat laun makin santer terdengar. Tak menyebut gelagat, tak menyebut rupa, tersebut nama seorang kakek gaek adalah penyelamat satu-satunya. Kakek itu pensiunan tentara perang juga. Kini orang sekitar ladang Tuan Morf, terutama kelompok pemburu bandit itu diterpa kesangsian. 


Diketahui kakek tua telah pikun. Terkadang ia bisa diajak bicara, tapi lebih banyak ia mengamuk tidak jelas yang terkadang teman-temannya harus membawanya, mengangkatnya dari selokan, mabuk habis kalah berjudi. Dahulu ia juga dikenal sebagai pendeta sebelum ia memutuskan untuk ikut perang. Perang telah mengambil jiwanya.


Pendeta berubah menjadi pemabuk. Identitas itu berubah semudah melepas pakaian. Tubuh berhak memakai pakaian apapun. Pakaian pendeta ataupun pakaian pemabuk sama saja. Terjebak dalam pandangan umum belaka.


Kakek tua itu sudah tidak bisa berburu Harimau lagi. Terlebih mayat tadi pagi, mayat dari anak buah si Tuan Morf yang tergeletak di pagi hari yang lalu itu tidak hanya cakaran harimau saja. Orang sekitar bertanya-tanya, mengapa kepalanya tembus oleh peluru? Sejenak bolehlah bingung mereka semua, memikirkan dengan tertib, memajukan logika ditengah ketakutan yang meruam di sekitar jantung dan adrenalinnya, bahkan di sekitar keringat-keringatnya. Merasuk dalam sel-sel otaknya memacu kemampuan berfikirnya, sebab mereka terpaksa memikirkan, Harimau ataukah peluru yang lebih berbahaya?
 

“Tunggu dulu,” jawab laki-laki kerempeng. Dengan nada cepat ia menambahkan, Kini sudah tidak bisa lagi meminta bantuannya,” sambungnya sambil melinting-linting kumisnya, yang seakan-akan di kumpulan lelaki itu telah menambah murung muka orang sekitarnya mendengar pendapat si lelaki kerempeng, ketua kelompok pemburu bandit


Laki-laki disebelahnya menyambung cepat, “Apa tidak langsung kita datangi saja rumah kakek itu. Guru Vorm pasti bisa diajak bicara.”


“Kita sudah lama berdiam diri. Apa kita sampah semua disini! Menjadi daging-daging segar yang siap disayat-sayat oleh cakar harimau gunung atau  diikat dibiarkan teronggok di tepi sungai ditembus peluru yang datang entah dari bandit atau cakar… 


“Cihh.. biar aku saja yang membujuk Guru Vorm ,” jawab laki-laki ke lima dari kelompok itu


“Ayo bergerak, tanpa si kakek tua, kita tidak bisa melawan Harimau,” jawab laki-laki kerempeng.


“Jangan lupa kau bawa minuman ini untuk Guru Vorm si kakek tak berguna itu,” salah satu teman si lelaki kerempeng mengingatkan.


“ Ayoo.. bergerak!!,” jawab serempak,laki-laki bertujuh yang sedang berbincang di rumah Tuan Morf.


Lekas tiga orang dari tujuh itu buru-buru menuju rumah si kakek. Wajah tegang sekelompok jagoan bertujuh itu terlihat nampak di wajah-wajah jagoan itu,  jelas sekali, cara mereka merokok, menyeruput kopi, atau langkah-langkah yang penuh keraguan. Di bale-bale banyak tumpahan kopi, serta sisa-sia abu rokok yang tak rapi menandakan mereka sedang gugup. Dari obrolan mereka dapat ditangkap, seakan mereka berbisik, “Kami lebih takut diterjang Harimau dibanding dengan peluru.”

Seorang lagi yang sedang tidur di rumah Tuan Morf  masih terlihat lelap di bale luar, tidur miring, tangannya masih siaga dengan pistol di pinggangnya. Kakinya mengangkang sebelah, melekuk, sesekali jatuh miring kesamping. Tanda ia tidak bisa  tidur pulas siang itu. 


GURU ELF VORM, 72 TAHUN, MANTAN PENDETA DARI GEREJA HELENIS sedang berada di rumahnya. Terdengar tapak kaki dari sepatu yang menempel tanah-tanah yang lengket dengan suara bercak air hujan yang mengubur suara jangkrik dan kodok ataupun suara ayam  yang semakin lama suara langkah bersepatu itu muncul mengubur suara itu. 


Langkah kaki bersepatu terdengar terhenti di depan pintu rumah Guru Vorm, si kakek pemabuk itu.

Guru Vorm sedang mengasah cangkulnya di dalam rumah. Sore tadi hujan memang turun, ladang-ladang siap diolahnya lagi. Tidak, kali ini ia ingin sekali berburu burung hutan untuk santapan makan malamnya. Di dalam rumahnya kalian bisa mendengar suara ayam terdengar saling bersahut-sahutan, banyak sekali peliaharannya. Ya, lelaki tua itu terkenal suka pelihara ayam. Entah untuk berjudi “adu ayam” ataupun menjualnya di pasar, ditukar dengan berkrat-krat minuman. 


Pintu rumahnya terketuk kencang.


Guru Vorm buka pintunya,” kata laki-laki itu


Guru, buka pintunya,” ia mengulangi sampai tiga kali.


Pintu terbuka, dengan cepat salah satu dari tiga laki-laki tamu itu menuju jendela, menutup- semua pintu-. 


“Apa tuan ikut dengan kami, ?” tanya lelaki itu dengan nada serius sambil meletakan botol minuman.


“Aku tahu kalian akan kesini,” jawab Guru Vorm dengan senyum sinisnya 


“Ya, Tuan Morf yang menyewa kita. Dan Tuan Morf yang membayar kita. Serta dengan hormat, Tuan Morf pula yang meminta Guru Vorm menemani kami berburu Harimau. Mencari jejak, lalu mengusir harimau itu. Tapi Sekarang kita semua, seisi kampung ini geger pula dengan ulah bandit itu, yang telah menembuskan peluru di kepala salah satu penjaga ladang Tuan Morf. Soal Bandit kami yang kan mengurusnya,” balas lelaki tersebut. 


“Aku sudah tua, dan kalian tahu aku ini yang sekarang hanya bisa mengerjakan dua hal selama pasca perang 30 tahun lalu. Harimau? Sekarang yang ku ketahui oleh penciumanku hanya bau minuman untuk menemani  mabuk dan berjudi,”  jawabnya jelas. Dengan nada lebih tinggi ia pun berucap, “Sungguh aku sendiri tidak yakin kedua kakiku ini mengijinkan untuk naik bukit-bukit dan menyeberangi sungai Leris yang sungguh lebarnya itu. Terlebih aku sendiri ketakutan dengan sisa-sia ranjau yang ditanam di tengah hutan,” jelas Guru Vorm sambil melihatkan luka bakar di kakinya. 


“Bukan hanya mematikan musuh serta melukai kakiku saja, anak harimau pun turut menjadi korban banyak yang mati terkena ranjau aktif itu. Bukankah kalian juga yang menguliti dan menjualnya kepada orang kulit putih di pasar gelap? Jadi siapa yang sebenarnya menakutkan? Mungkin Harimau ingin membalas perbuatan kita itu. Sampaikan pada Tuan Morf, maaf kali ini aku tidak bisa, tambah Guru Vorm sambil mengelap senapan angin yang sedari tadi ia usap-usap dengan kain lapnya, menyingsing spot-spot warna hitam bedil itu terasa mencolok mata yang memandangnya.


Ketiga lelaki  yang disuruh lelaki kerempeng, ketua kelompok pemburu bandit yang datang ke rumah kakek tua merasa kalah argumen, tak mampu mengajak kakek tua itu mengikuti rombongan untuk memasuki hutan atau berjaga-jaga kembali di Ladang Tuan Morf yang sejak dua hari lalu geger, sebab penjaganya mati di pinggir sungai. Apakah setiap rombongan para  pemburu bandit seperti mereka masih membutuhkan seorang kakek tua? Guru Vorm si penjudi dan pemabuk itu yang sudah lupa ayat atau doa apa yang harus diucap agar membangkitkan kembali gairah keberaniannya melawan hukum alam. Kini ia banyak mengeluh, sering mengaku  jalan sebentar saja terasa kaki-kakinya tertarik urat yang sudah tua, linu menghujam setiap sendi-sendinya, langkahnya sudah habis, yang ia tahu hanya mabuk adalah teman sehari-harinya. Ini bakal menyulitkan perjalanan, penjagaan ladang Tuan Morf akan terganggu saat ia harus ikut berpatroli.


Ketiga lelaki kembali ke kelompok tujuh pemburu bandit itu. Kini kabar yang tersisa hanya si bandit bakal meyerang malam ini.


“Lekas kita bergerak ke ladang,” ucap lelaki pertama si lelaki kerempeng. Ketua kelompok itu sedang menghisap rokoknya dengan gugup, terlihat setelah mendapat kabar dari ketiga utusannya tersebut.  

SORE SEKITAR PUKUL LIMA HUJAN TURUN. Air sungai berubah menjadi lebih merah, embun kembali turun dari lembah, lumpur menarik keatas, udara dingin menyerang kulit para pekerja yang menunggu antrian untuk melintasi jembatan penyeberangan satu-satunya menuju ladang Tuan Morf. Mereka yang berada di jembatan itu tidak pernah takut dengan hujan ataupun dinginnya udara, hanya saja bayang-bayang pembunuh penjaga ladang serta auman Harimau dari bermil-mil kejauhan hutan yang dalam menjadi begitu dekat memungkinkan ketakutan mengisi hati mereka, membuat dinginnya guyuran hujan tak segigil jantung mereka yang berdetak keras saat perbincangan mereka mengenai si tubuh gempal yang mati sehari yang lalu. Harimaulah yang membuat bertambah kencang mendorong aliran darah mereka memompa jantung lebih cepat.
 

Para pemburu bandit kelompok lelaki bertujuh sudah siap berjaga ladang, mereka berkumpul  di sebuah rumah dekat dengan pos pemeriksaan di jembatan penyeberangan itu. Dua dari mereka sedang berpatroli. Para pekerja ladang sudah banyak yang kembali ke rumah. Kecuali rasa takut, sekali lagi suara-suara takut mereka tetap berlari kencang, mereka siap berburu malam ini, tapi ketakutan sudah lebih dulu memburu hati dan jantung para penjaga ladang Tuan Morf.


“Apa yang harus kita takutkan dari bandit itu, haruskah lebih baik kita mengurus Harimau terlebih dahulu?,” tanya si lelaki ketiga saat berjaga di depan kantor pemeriksaan masuk ataupun keluar ladang Tuan Morf.


“Bodoh !!!... Harimau tidak bisa diajak bicara,” hembusan rokoknya masih saja menandakan si lelaki ke empat menunjukan kegugupannya. Rokok si lelaki ketiga jatuh. Seiring letupan selongsong peluru terdengar. Ia bergegas berlari dengan si lelaki ke empat.


Belum lama berselang suara tembakan, meletup kembali dari dalam ladang Tuan Morf.  Si lelaki  ketiga, ke empat, ke lima dan ke enam bergegas ke luar. Si ketua kelompok pemburu bandit, si lelaki kerempeng  ada di dalam, ia tidak mau ada di  dalam sekitar pos pemeriksaan saja. Buru-buru ia mengambil pistol dan tanda salib yang ia kalungkan di dilehernya. Bergegas menuju suara letupan tersebut.


Satu dari dua penjaga yang mengikuti jejak bandit itu tewas, sedangkan satu lagi terluka disekujur tubuhnya di samping dada kanannya dengan luka yang terkoyak akibat cakar dan gigitan Harimau.

Di kondisi kritisnya ia memberi kabar. 


Mereka sedang mengikuti seorang yang dicurigai bandit itu muncul dari sungai. Saat ia berteriak memanggilnya dan memberikan peringatan dengan menembakan pistol ke udara, bandit itu tenang dan kembali menyelinap ditengah pepohonan sekitar hutan dekat ladang Tuan Morf. Anehnya mereka merasa bandit itu seperti sedang berburu mengikuti jejak harimau di depannya. Jejak harimau itu menyatu dengan jejak sepatu bandit itu, sehingga penjaga itu semakin waspada. Sialnya jejak Harimau itu benar menjadi hantu yang menyerang ketakutannya.


“Dari jejak sepatu bandit ini dan jejak harimau, mana yang lebih dahulu menyerangmu?,” tanya si lelaki kerempeng itu memastikan.


“Harimau,” jelasnya.


Mereka bergegas. Rombongan pemburu bandit yang telah di sewa Tuan Morf itu menuju hutan. Sementara itu, hujan turun semakin deras. Guru Vorm sedang mencuci kaki dan sepatunya yang lengket akibat lumpur, cangkul ia senderkan dekat perapian dapur belakangnya. Halamannya luas. Guru Vorm  mengguyur air, mencuci kayu-kayu yang baru ia ambil dari hutan.


Beberapa ayam ia ambil dari kandang.


Sekilas, sinar mata dari seseorang dari kegelapan seperti mengawasi belakang rumahnya, mengawasi ayam, mengawasi jejak kakinya, tak terkecuali mengawasi detak jantung  Guru Vorm si pendeta itu dari belakang perapian dapurnya. Mata itu menyala-nyala dibalik pepohonan dan daun-daun yang menumpuk dekat kandang ayam peliharaannya. Sekali mengedip mata itu menakuti ayam-ayam yang membuat teriakan ayam-ayam itu sesekali teriak sekencang-kencangnya menghabiskan suara akibat ketakutan. Seperti itulah manusia tak lebih seperti ayam-ayam yang sudah terperangkap dalam kandang, hanya bisa berteriak, teriakan ketakutan.


Sinar mata yang mengawasi gerak Guru Vorm si pendeta dari Gereja Helenesia itu semakin awas dan memunculkan taring-taringnya saat membawa ember yang berisi daging ayam. 


Oh tidak, lalu untuk apa kayu-kayu dari hutan itu? apakah untuk membuat kandang layaknya kandang ayam yang ia ketahui sudah lapuk? 


“Tidak,” jawab Guru Vorm si pendeta itu.


Tentunya itu lebih besar, dan mata awas itu mempunyai hidung yang suka mencium bau amis cincangan daging ayam yang berember-ember yang dibawanya itu.

*



* Cerpen ini  ditulis untuk mengikuti sayembara cerpen yang diadakan LKM UNJ.

Ditulis oleh Rianto

Rawamangun 17 Agustus 2013.

Posted on Sabtu, Agustus 17, 2013 by Rianto

No comments