Rabu, 01 April 2015

Imajinasi kita tentang pelajar masa lalu tak bisa lepas dari buku-buku. Kita teringat akan pelajar masa lalu yang menjaga ingatan tentang hidup berbuku. Harry Poeze dalam bukunya Di Negeri Penjajah (2014) mencatat ingatan-ingatan pelajar terdahulu yang gemar menjadikan buku dan menulis  risalah-risalah. Abdul Rivai saat menjadi pelajar di belanda tahun 1911 membuat risalah penting Bintang Hindia yang berisi ide-ide kebangsaan. Noto Soroeto pemikir kontroversial pun membuat sebuah perusahaan percetakan Boekhandel en Uitgevers-Mij Hadi Poestaka yang menerbitkan buku puisinya Lotos en Morgendauw (Teratai dan Embun Pagi).

            Jauh sebelum itu, kita pun terkenang akan buku Kartini Door Duisteris tot Licht  yang diterbitkan di Belanda tahun 1901 sebagai bukti penyebaran ide-ide Kartini melalui buku. Buku  dibuat dan dicetak sebagai alat penyebaran gagasan Kartini. Roekmini adik Kartini begitu terharu terbitnya buku kumpulan tulisan Kartini ini. Terbitnya buku membuat Kartini seperti hidup kembali. Kartini hidup sebagai ide yang terus menjadi oase ide perjuangan sekolah dan pendidikan. Roekmini begitu terharu menerima buku dari Tuan dan Nyonya Abendanon yang memuat surat-suarat Kartini.  Roekmini menulis, “seolah-olah Tuan telah mengembalikan masa muda kepada saya, telah membangkitkan diri saya dengan semangat baru dan memberi saya kekuatan untuk terjun kembali dalam perjuangan yang harus dijalani demi kebahagian kami semua, dan khusunya untuk kami, kaum wanita.” Kita percaya  buku mengembalikan ide dan imajinasi perjuangan.

            Buku menjadi agenda penting dalam revolusi kemerdekaan. Koentjaraningrat (1998)  lulusan  SMT Djakarta 1942-1945 mengenang dalam esainya Tugas Mengurus Buku di Zaman Jepang dan Zaman Perjuangan terdapat kisah mengenai  perjuangan penting melalui buku-buku. Koentjaraningrat  mengenang “buku-buku yang dibuang kenpetai dan kami punguti itu diangkut dengan gerobak-gerobak dan delman-delman ke stasiun Manggarai dan Stasiun Jatinegara”. Koentjoroningrat menjadi saksi sejarah bagaiman buku ditelentarakan oleh Kenpetai Jepang dari museum-museum Jakarta.

           Koentjoroningrat eling menyelamatkan buku menjadi agenda penting menjaga ingatan akan pengetahuan. Buku dipunguti dan diangkut ke Yogyakarta. Buku disimpan didalam karung untuk mengelabui tentara Belanda. Koentjaraningrat mengingat,“Buku-buku tersebut kami sembunyikan di bawah karung-karung beras, sayuran, dan bahan-bahan pangan lainnya”. Koentjoroningrat yakin buku akan menjadi suluh pengetahuan yang menjaga mahkota pengetahuan. Ingatan itu dijaga dari risalah-risalah dan buku-buku.


            Kita masuk ke abad 21 yang tak lagi menjadikan buku sebagai mahkota pengetahuan. Kampus-kampus jarang membuat agenda bedah buku dan membicarakan buku. Kampus gebyar spanduk promosi iklan. Perpustakaan berlomba mendapatkan ISO  namun sepi akan acara-acara yang membangkitkan imajinasi dan literasi. Kini kita meributkan ongkos cetakan buku pelajaran yang ditarik kembali akibat kisruh kurikulum 2013. Buku menjadi bahan ributan yang selalu dibaca secara ekonomi (baca uang). Buku mesti dibaca secara kebudayaan yang menjaga tradisi dan ingatan. Kita lupa ingatan akan buku yang menjadi mahkota pengetahuan.

Posted on Rabu, April 01, 2015 by Rianto

No comments

Selasa, 31 Maret 2015

Sous le pont Mirabeu coule la Seine
(Di bawah jembatan Mirabeau mengalir Sungai Seine)

Sitor mengawali esainya Paris :Yang Dikenang, Yang Dilupakan (1999)  mengutip sajak “Le pont  Mirabeu “ oleh G. Apollinaire itu. Sungai yang membelah kota terkadang menjadi agenda tak pernah selesai sebagai pemantik imaji dalam bersajak.  Penyair selalu punya dalih dan mengingat ‘kilas balik’ sebuah kota melalui sajak. Simbol-simbol kota dan jejak perjalanan pada sajak yang digubah sang penyair menjadi kunci “membaca kota” sekaligus membaca biografi hidup sang penyair.

Kota-kota yang bersentuhan dengan penyair memantik ingatan “perjalanan” sang penyair dalam proses pematangan dalam mencipta sajak. Kita tak bisa pungkiri tubuh sang penyair yang membaca teduh dan gaduh kota mengingat prosesi itu dengan sajak. Barangkali kita bisa menikmati kota-kota yang tak pernah tersentuh, yang kadang nampak imajiner itu melalui puisi, esai, maupun cerita pendek sang sastrawan.

Penyair selalu ingin bergerak dari kota ke kota. Dari rumah ke rumah yang lain. Dari kampung halaman ke kampung halaman yang lain. Penyair selalu punya “keinginan” transit ke sebuah kota dengan mengingat perjalanan ‘kilas balik’ itu melalui sajak. Kita yang membaca sajak dalam proses kreatif sang penyair menjadi merindu, kasmaran bahkan menjadi mengingat-ingat akan kota yang digambaran melalui sajak itu.

Pemantik awal

Sitor mengaku saat remaja membaca buku “Melawat Ke Barat”  karya wartawan kondang Adinegoro. Buku yang berisi perjalanan-perjalanan yaang ditulis Adinegoro itu menjadi pengingat akan barat yang menjadi kiblat pengetahuan. Sitor mengingat, “Di masa remaja saya pernah membaca buku karangan Adinegoro, wartawan pioner  yang pernah bersekolah di Nederland di tahun 1920-an. Ia menulis cerita perjalanannya waktu  pertama kali  ke Eropa, yang di masa itu  berarti naik kapal laut menempuh perjalanan selama 6 minggu , lewat terusan Suez” (Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45, hal 120)  

Penyair menjadi mata membaca kota. Perjalanan-perjalanannya dimungkinkan dengan lahirnya puisi-puisi dengan kata sebgai simbol penyair yang ingin menggambarkan apa yang dilihat dan dirasakan. Suasana dan peristiwa, gambaran orang-orang yang bakal tercermin dalam syairnya justru membuat kita betah membaca biografis kota dari puisi.

Sitor yang hidup dengan imaji kampung dan kedekatannya dengan sang ayah sebagai kepala suku menjadikan sitor ingin hidup mengembara. Sitor ingat betul dengan filosofi ayahnya yang membuatnya ingin berkelana. Sejak kecil Sitor diajak ayahnya yang kepala suku itu mengembara dari desa ke desa lain. Menyusuri kampung ke kampung dan melewati pelbagai bukit. Disanalah Sitor mengerti, tugas kepala suku adalah pencatat sejarah. Perjalanan seorang ayah yang membawa keyakinan kepada Sitor telah mencipta imajinasi pengembara sekaligus pencatat sejarah.

Hidup Sitor ditengah pergulatan primodial kesukuan, kemerdekaan, perang, dan kota-kota yang merangkak menjadi modern menjadikan Sitor sebagai penyair yang banyak mempunyai banyak ingatan akan kampung halaman. Ajip Rosidi dalam kata pengantar buku “Sitor Situmorang Kumpulan Sajak 1948-1979” (Komunitas Bambu, 2006) menyebut Sitor sebagai penyair yang mempunyai banyak kampung halaman. Yogyakarta, Jakarta, Bali adalah kota yang mengembangkan imajinasinya. Di Asia kita akan menemukan kota ynag disingahinya di China maupun Jepang. Begitupula Eropa dengan Parisnya telah menghilangkan rasa hausnya akan kesusasteraan barat yang hanya didapatkan lewat membaca buku maupun berdiskusi.

Mari kita menikmati beberapa sajak Sitor yang menjadi kata kunci membaca kota. Dalam Sajak Pasar Senen Sitor kehilangan akan gadis “Aminah”. Suasana kesepiannya akan Aminah, berdialog dengan kawan-kawannya macam tukang becak, tukang delman, supir yang menjadi teman menikmati keindahan senyum Si Kebaya Merah. Terkadang kita masih menikmati di tempat-tempat pangkalan macam warkop masih berkumpul orang-orang melepas penat sehabis bekerja dengan menyeruput kopi dan memandang perempuan-perempuan. Di sanalah hidup apa yang dimaksud dengan gejala migrasi ke kota. A Teeuw mengatakan setiap penyair tentu sibuk dengan hidup dan pikirannya. Penyair melalui sajak pun hadir menjadi pemantik ingatan akan perkembangan kota.

Ke mana kawan  semua
Supir, tukang delman
Teman berdampingan
Kita semua bersenda                                                          
Menampung senyuman
Si Kebaya Merah
Dari Kepulan asap merekah
Hai Tukang becak
Bilang padaku
Dewiku
Ke mana kau Bawa
(Sajak Pasar Senen)
Paris di Mata Sitor
            Paris sebagai kota kebudayaan selalu seksi di mata penyair. Wing Kardjo penyair yang membuat disertasi tentang Sitor Situmorang justru menyebut Paris sebagai kota yang dapat bicara tentang hidupnya. Wing Kardjo menganggap sajaklah yang dapat berbicara keras tentang hidup penyair dan jejaknya. Kita pun dapat membaca perjalanan penyair melalui jejak-jejak sajak itu. Kita simak sajak Sitor,

Inilah Paris, kota penyair
            Gua segala yang terusir 
Laut lupakan  sesah
Dalam dekapan satu wajah

(Paris Janvier,1953)
           
            Paris kota penyair. Kita menyadari betul konsep Paris yang kita duga adalah kota yang penuh cinta dan romansa. Seorang penyair macam Wing Kardjo menyindir dengan menyebut Paris sebagai kota yang dirindukan tetapi un mal aime yakni kota yang mirip dengan cinta yang jahat. Kita pun memandang kota yang penuh dengan clochard (gelandangan). Kota yang dihuni binatang serakah. Sitor pun menggambarkannya dengan,

            Kelupaan sebuah kota
            Di mana duka berwujud manusia
            Dan bahagia pada manusia tak punya
           
(Paris Janvier,1953)                                                                                                          

Kembali dalam esainya, “Paris Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan” Sitor mengungkapkan Paris sebagai kota yang dikunjungi saat ia menjadi wartawan. Tahun 1952 Sitor berkesempatan menikmati “Pameran abad ke 20”. Sitor menulis, “Di saat itu saya merasa seakan-akan semua itu digelarkan demi memenuhi kebutuhan saya pribadi memuaskan kehausan saya “minum langsung dari sumbernya” (kesenian modern).”. Sitor pun mengenang Paris pada perjalannya di tahun 1952, 1957, 1964, 1977, 1981, 1986, 1989, dan terakhir 1991.

Penyair berkunjung dan hadir di kota yang pernah ia singgahi sebagai “kunjungan kilas balik” untuk mengenang tempat, suasana, maupun peristiwa. Penyair menjadi pencatat sebuah kota. Di perjalanann Sitor ke Paris tahun 1992 adalah hari istimewa bagi Sitor. Sebuah puisi  Apollinaire yang ia kutip, terbayang  Sitor akan penyair itu singgah di sebuah rumah dengan plaque tertulis,

plaque Dans cette maison
vecut et mourant
(janvier 1913-9 novembre 1918)
Le Poete Guillaume Apollinaire 

Seorang penyair hadir di kota bukan menjadi orang asing melainkan menjadi perantau yang mempunyai imaji setiap kota adalah kampung halamannya. Barangkali itu juga yang diyakini oleh Sitor. Restauran saat makan malam bersama temannya Francoise dan Jean, Sitor merasa bukan sebagai orang asing. Kilas balik ingatan saat pertama kali tinggal di Paris tahun 1952 pun terbayang. Kenangan akan eropa itulah yang dianggap Subagio Sastrowardoyo menempatkan Si anak hilang itu sebagai sosok yang eropa mesti ia pun kangen dengan kampung halamannya di Indonesia. “Hanya jasmani anak itu yang kembali ke tengah keluarga dan desanya, tetapi jiwanya masih tetap tinggal di eropa,” kata Subagio (Subagio,1980:100).

Di sebuah restaurant, Sitor mungkin bertemu dengan orang-orang baru, namun yang membuat Sitor kasmaran adalah mengingat puisi dan penyairnya. Seperti saat Sitor teringat akan Apollanaire dengan sajaknya hadir bersama di restauran itu. Ingat, penyair akan hadir di kota dan mengingat perubahan kota melalui imaji “kilas balik” melalui sajak. Barangkali setiap kota adalah kampung halaman bagi penyair. Sitor pun menulis sajak,

Akankah aku ikut latah?- berkata:
Paris Sudah berubah!
30 tahun kemudian, aku kini
kembali
di peron yang sama, hanya

Kau tak ada.
(Paris 1977 (chanson kecil) )


Posted on Selasa, Maret 31, 2015 by Rianto

No comments

Di suatu diskusi yang diadakan Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) saya mengajukan Ni Jo Lan sebagai penulis sastra tionghoa peranakan yang patut untuk didiskusikan. Kita mungkin lupa, merayakan imlek bukan saja merayakannya dengan mengucapkan  Gon Xi Fa Coi di media sosial seperti Path, twitter, maupun facebook. Kita pun bisa merayakan imlek dengan berdiskusi buku-buku sastra tionghoa peranakan atau yang dikenal dengan sastra yinhua. Agar kegembiraan merayakan imlek melalui buku menjadikan kita waras dan tak amnesia tentang sejarah sastra peranakan Tionghoa-Indonesia.

Lan Fang (2012) dalam esainya “Ghirah Sastra Tionghoa Terus Menyala” mengatakan sejak Inpres tahun 1967 sebagai politik orba, gairah sastra tionghoa peranakan mati suri. Lan Fang menganggap  sastra tionghoa peranakan pun ibarat mati segan  hidup pun tak mau. Kita mengenang  majalah  Xing Ho dan koran-koran Ta Kung Siang Po, sebagai tempat menulis.

Ni Jo Lan pernah menulis buku yang berjudul Sastera Indonesia Tionghoa (1957). Buku tersebut ditulis agar menjadi pengingat akan sejarah sastra yang ditulis orang-orang tionghoa peranakan. Ni Jo Lan dalam kata pengantarnya mengatakan,“hasil sastera itu merupakan tipifikasi suatu zaman jang sudah silam, sedjarah kemasjarakatan suatu golongan bangsa di Indonesia kita pada masa itu, dan alat penundjuk angan-angan jang hidup dalam golongan itu”.

Justru dari sastra itu Ni Jo Lan ingin mengajukan pembacaan sejarah Indonesia  melalui buku-buku sastra Indonesia-Tionghoa. Ni Jo Lan percaya hasil karya sastra tionghoa peranakan meski “bahasanja miskin”, namun penuh dengan bahan-bahan pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman studi.   

Leo Suryadinata mengatakan Ni Jo Lan merupakan tokoh penting yang menulis tentang sejarah sastra tionghoa peranakan. Tahun demi tahun, Ni Jo Lan pun senyap karena jarang didiskusikan buku-bukunya. Pramoedya Ananta Toer-lah sastrawan Indonesia yang memulai memasukan karya-karya sastra peranakan tionghoa ini. Pram mengamini apa yang dikhawatirkan oleh Ni Jo Lan bahwa jika tidak ada penelitian lebih lanjut sastra tionghoa peranakan akan hilang begitu saja. Ni Jo Lan (1957) gelisah dengan menulis,“sastera  ini akan lenjap terseret arus sang Kala”. Ni Jo Lan banyak mengajukan penulis-penulis Tionghoa peranakan yang banyak menerbitkan karyanya sebagai pemuas dahaga akan bacaaan sastra tionghoa. 

Selain Ni Jo Lan, kita pun patut merujuk pada Djames Danandjaya. Djames Danandjaya pernah menulis tentang Folklor Tionghoa (2007). Djames Danandjaya menulis buku itu sebagai upaya mengobati amnesia sejarah. Menurut Djames Danandjaya suku bangsa  mayoritas Indonesia  mengalami hypnoticamnesia sedangkan suku bangsa Tionghoa adalah autohypnotic amnesia. Patut menjadi catatan adalah mengenai autohpynotic amnesia ini.

Djames mengatakan autohypnotic amnesia disebabkan oleh penguasa. Indoktrinasi yang dilakukan oleh penguasa Orba berupa pelarangan sekolah dan penerbitan berbahasa Cina, penggantian nama, pelarangan upacara di depan umum menyebabkan suku bangsa tionghoa melupakan jati dirinya. Dalam kata pengantar Djames Danandjaya menulis, “Akibat indoktrinisasi yang dilakukan secara sitematik itu, kebanyakan orang tionghoa karena patuh  pada politik pemerintah Orba dengan sadar atau tidak sadar telah melupakan jati dirinya” 

Di era reformasi Gusdur membawa angin segar bagi perkembangan sastra yinhua ini. Agus Setiadi (2010) dalam esainya “Geliat Sang Naga Dalam Pustaka” mencatat beberapa buku yang hadir menghias di toko buku setelah reformasi. Kita pun dapat mencatat novel-novel yang hadir menjadi referensi membaca sang naga dalam pustaka. Remy Sylado salah satu sastrawan yang rajin menulis novel bernuansa tionghoa. Kita bisa mnegingat karya-karaya Remy seperti Siau Ling Cau Bau Kan, Sam Po Kong Perjalanan Pertama. Ataupun karya terjemahan Pramoedya Annata Toer berupa Dewi Uban dan Opera Lima Babak.     


Kita mesti merayakan imlek dengan berliterasi. Menggalakan kembali membaca dan mendiskusikan buku-buku sastra Indonesia-Tionghoa.  Djames Danandjaya mengingatkan kita bahwa orang tionghoa bukan hanya dikenang melalui jenis makanan macam: bakmi, tahu, tauco, dan sebangainya. Kita pun patut mengajukan referensi berupa buku-buku karangan penulis-penulis Indonesia-Tionghoa. Mengenang sekaligus menjadi mengobati penyakit amnesia sejarah.     

Posted on Selasa, Maret 31, 2015 by Rianto

No comments

Jakarta sebagai ibu kota sering mendapatkan kritik dari orang-orang dengan pelbagai cara. Cap Jakarta sebagai kota langganan banjir serta termasuk kota yang tidak aman menghadirkan meme di media sosial. Meme pun hadir menjadi penghibur sekaligus kritik akan Jakarta.

Kita gampang tertawa melihat meme yang dihadirkan untuk sekedar hiburan dan mengundang tawa. Meme yang kita kenal selama ini merupakan plesetan berupa gambar dan kata dengan tujuan menghibur. Kita mengenal meme yang hadir sebagai kritik yang mengundang tawa. Richard Brodie (2014) dalam bukunya Virus Akal Budi : Ilmu Pengetahuan Baru Tentang Meme mengatakan meme dapat bekerja seperti virus. Meme dapat mempengaruhi perilaku dan pikiran orang-orang.

Abad 21 dalam dunia digital menghadirkan meme sebagai media kritik dan hiburan.  Kita jarang menghadirkan puisi sebagai penghibur dan renungan akan kota. Sebuah puisi juga sanggup berbicara dan bergelimang makna akan imajinasi kota. Ajip Rosidi dalam puisinya “Kepada Jakarta”(1955) memantik ingatan kita membaca kota. Melalui puisi itu Ajip memberikan gambaran melankolik,”Tiada nyanyi seduka Jakarta” barangkali menjadi kritik pada kota Jakarta. Penyair hadir menyemarakan sketsa kota melalui puisi. A Teeuw mengatakan setiap penyair tentu sibuk dengan hidup dan pikirannya. Penyair melalui puisi pun hadir menjadi pemantik ingatan akan perkembangan kota.

             Puisi menjadi obat lupa ingatan akan sejarah. Puisi Zeffry Alkatiri misalnya sering menghadirkan imaji sejarah dengan menghadirkan tokoh-tokoh moncer macam Raffles, J.P. Coen, Mojen. Bandung Mawardi (2014)  menghadirkan Zeffry Alkatiri sebagai penyair yang mengamanatkan sejarah. Puisi menghadirkan imaji akan ingatan akan sejarah. Sebuah puisi dihadirkan menjadi mata yang awas akan perkembangan kota. Puisi menjadi renungan akan masalah sosial, ekonomi, politik. Melalui puisi penyair mengantarkan kita pada renungan akan kota.

            Puisi Zeffry Alkatiri berjudul, “Kapan Kau datang Lagi, Jaap” (2002-2005), menghadirkan tokoh-tokoh sejarah yang pernah mendirikan kota di Hindia Belanda. Dalam puisi itu, Zeffry membuat renungan dengan menulis, //oleh sebab itu, kirimkan kami J.P. Coen, Deandles //dan Mojen kembali//agar kami dapat belajar membangun beberapa kota//.

            Kita mengenang Deandels merupakan gubernur jenderal yang membuka Jalan Raya Pos. Jalan yang membuka gerbang kota-kota lain bermunculan seperti Bandung, Cirebon, Semarang. Emile  Leushuis (2014) menyebutkan bahwa Daendels jugalah yang memberikan perintah penataan kembali kota-kota penting di pesisir utara Jawa. Kini kita pun mengenang kota-kota pusaka semacam Jakarta, Cirebon, Bandung, dan Semarang sebagai warisan peradaban kota.

            Chairil Anwar membuat puisi yang meninggalkan jejak-jejak membaca kota. Chairil menghadirkan puisi-puisi yang berkisah tentang modernitas dalam kota. Marco Kusumawijaya (2008) menganggap Chairil sebagai penyair yang membaca kota. Marco menganggap di dalam ruang kota, sajak bisa bicara tentang zaman. Puisi pun menjadi ‘dokumentasi kata’ akan gerak perkembangan kota Jakarta yang merangkak menunju modernitas. Chairil dalam sajak “Aku Berkisar Pada Mereka” (1949) mengungkap kota melalui jalan, film, musik, lampu jalan dalam larik-lariknya sebagai rekam jejak kota Jakarta dalam sajak.  Persis  apa yang dikatakan Afrizal Malna bahwa para penyair dapat melihat perkembangan kota yang lebih progresif melakukan modernisasi melalui puisi.         

            Saat Jakarta diserang banjir kita melulu mengabarkan banjir melalu medai sosial. Lalu bercanda dengan gambar meme yang mengundang tawa. Mengunggah foto dan berkicau  mengenai banjir melaui facebook, path, maupun twitter. Justru kita rindu dengan puisi yang menjadi mata hati membaca kota. Kita mengabaikan peran puisi dalam memaknai kota. Puisi pun berhak dihadirkan menjadi lentera membaca kota. 

Posted on Selasa, Maret 31, 2015 by Rianto

No comments

Selasa, 27 Januari 2015

I
            Kota kecil macam Spectre dengan rumput dan daun-daun yang hijau tetap saja membutuhkan seorang penyair sebagai pemikat pagi yang penuh susu dan roti. Imajinasi itu muncul ketika  penyair  yang mirip“ikan kecil” masuk ke kota kecil pula yang di dalamnya orang-orang enggan, bahkan tak ingin bersepatu. Barangkali kota tak membutuhkan sepatu. Kota butuh penyair saat malam-malam gembira dengan musik penuh gairah membuat orang-orang menghentakan kaki ikut berdansa sambil bersajak.

            Sang penyair duduk dikelilingi perempuan-perempuan cantik yang penuh pesona menunggu kata pertama dalam bait syair sang penyair itu. Kertas yang sedari tadi dipegangnya memikat wanita-wanita disekelilingnya. Saat penyair membacakan dengan pelan dan datar sajaknya, “Mawar merah// violet biru// Aku cinta Spectre”. Itulah puisi penghabisan dari sang penyair bernama Norther Winslow dalam film Big Fish. Yang tak tersadari dari sang penyair sendiri: kota hanya menjadi tempat transit saja bagi seorang penyair. Mendiami kota untuk berpisah dan bersajak.

            Terkadang kota dengan deru dan debu menjadi ruang imaji yang dipuisikan dan dituliskan oleh orang-orang. Sebab itu saat Chairil Anwar menyebutkan kata ‘pelabuhan’ dalam sajak  “Kawanku dan Aku” ada kesan kerinduan imajinatif tentang hidup bahwa kita makhluk yang mengenang dan memikat simbol-simbol kota dengan sajak. Chairil memang orang yang mengungkapkan lapar hidupnya dalam sajak-sajak begitu kata  Teeuw dalam bukunya Tergantung Pada Kata (1983).

                        Kami sama pejalan larut
                        Menembus kabut
                        Hujan mengucur badan
                        Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Kota selalu dihidupi oleh orang-orang dengan rasa lapar akan sajak dan prosa. Kita merasakan serigala-serigala yang mengungkapkan kota dengan sedikit sendu. Kota tak berdaya tanpa sebuah sajak dan prosa.
II

            Kota memperoleh cahaya lampu modernitas melalui sajak.  Dalam cetakan terbatas  Chairil dan Kota (2008) yang digubah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Marco Kusumawijaya menulis esai memikat akan tafsiran aku sebagai subyek dalam modernitas. Esai panjangnya memuat kutipan penuh sajak-sajak Chairil. Menempatkan sajak-sajak Chairil pada tafsir landasan modernitas membaca kota.  Marco memberi koma yang mesti dilanjutkan bagi penafisr kota dalam sajak Chairil “Aku Bekisar Antara Mereka” merupakan sajak “jagoan” pilihan Marco yang paling mengena. Lagu pop, trem, lampu, serta  bioskop yang memutar film Amerika memadat dalam sajak yang mengerti kota dengan, “aku pakai mata mereka”.

                            Sandarkan tulang belulang pada lampu jalan saja,

                        Sedang tahun gempita terus berkata.
                        Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota


            Dari pembacaan sajak itu, saat saya berjalan di sela kota yang murung akibat mendung, bau aspal yang lebab sehabis hujan semalam kaki memasuki ruang pameran di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki yang gemerlap dengan lampu-lampu terkenang akan sajak Chairil itu.

            Meminjam istilah Bre Redana “kita merayakan hal-hal kecil“ dalam mengerti simbol kota dengan lampu, jalan aspal, menara-menara. Barangkali apa yang dimaksud oleh Rudolf Mrazek dalam bukunya Engineers Of Happy Land (2006) ada perkembangan kota yang terus memikat kita dengan para pesolek kota. Di buku itu ada seorang yang hidup di zaman bergerak macam Marco Kartidikromo yang tajam ide-idenya membuat novel Student Hidjo di tahun 1918-an di saat kota-kota tumbuh merangkak  menjadi remaja. Pesolek yang  merekam perkembangan kota melaui novel.

            Kota hidup melalui kata. Justru novel Student Hidjo memikat kita bukan hanya karena novel ini menjadi pemantik imajinasi akan kota, disanalah hidup tokoh yang ditulisnya menjadi gambaran Marco sendiri sebagai pengarang menanggapi ikhwal kota dalam narasinya menjadikan Mas Marco sendiri sebagai orang modern. Orang yang merekam kota melalui sastra. Justru menjadi gambaran penulis itu sendiri yang bergeliat dengan kota.  Rudolf Mrazek menulis,“Mas Marco suka tampil dalam pakaian barat, terutama serba putih“.

III
            Mencatat kota melalui sajak ataupun novel menjadi ruang transit kata keseharian kita. Ikhwal kota transit yang begitu gemerlap dengan “imaji“ kota yang merangkak modern. Dalam novel Student Hidjo itu kita bisa membayangkan Hidjo yang mengenakan celana panjang, jas, dan dasi, ala mode dan tak dapat diragukan tentang hal ini ia memamerkan dua pena di saku jasnya sebagai simbol modernitas. Pena menjadi simbol kota yang bisa kita bayangkan sebagai gebyar modernitas.

            Orang berpena, maka ia telah menyentuh modernitas. Hidjo makhluk kota yang berpena. Serta hidup gemerlap bergadengan gadis belanda sambil menonton drama Faust. Sekali lagi, kota hanya menjadi transit bagi Hidjo. Berpisah dengan Betje, si gadis Belanda. Ia memberikan buku Post Spaarbannk sebagai tanda perpisahan di sebuah Stasiun Amsterdam. Dalam imaji Mas Marco kita dihadirkan anak manusia yang berpisah dengan kota. Di sebuah stasiun kereta Hidjo seorang terpelajar yang kembali ke tanah jawa sehabis dari Amsterdam. Lalu kota menjadi tempat perpisahan melalui buku yang di dalamnya terselip uang. Dalam sebuah perpisahan di Stasiun Amstedam Hidjo berucap, “Buku ini kamu simpan, dan uangnya boleh kamu ambil, kalau kamu ada keperluan“

            Kita bisa membayangkan imaji Mas Marco yang memunculkan Hidjo sebagai simbol manusia kota yang berada dalam ironi. Dari karyanya itu justru Mas Marco menggambarkan guratan manusia mesti siap transit dari kota ke kota lainnnya.  Kota yang dengan sendirinya terus bergerak penuh dengan simbol modernitas yang bergema dengan auto, trem dan pena-pena.

                Kapal Gunung meniupkan peluitnya yang pertama, sebagai tanda supaya orang-orang yang mengantarkan passagiers (penumpang) kapal itu supaya turun ke darat. Waktu itulah orang-orang  yang hendak pergi dan para pengantarnya saling berjabat tangan. Sebagai tanda selamat tinggal dan selamat jalan. (Student Hidjo, Hal 22)

            Kota menjadi ruang transit berpisah dan bersendu. Bersedih seperti Hidjo yang mesti bertolak dari pelabuhan Tanjung Priok menyisakan ingatan, Sriwedari, Hotel des Indes serta kekasihnya. Ataupun perpisahannya dengan gadis belanda di sebuah stasiun kereta yang ditutup dengan rasa “kangen”, airmata dan buku.

            Kita berimaji dan mengingat kota dari sebuah karya sastra. Ingatan itu muncul dari gambaran jalan, stasiun, bioskop pelabuhan di mana manusia kota lalu lalang dan berkebudayaan. Dengan membaca imaji itu, kita sudah hampir mirip penyemir sepatu yang menjaga ingatan kita tentang “sepatu yang mesti hitam mengkilap” sehabis menapaki jalan kota.

            Kota memuat kisah kesenduan yang disajakkan ataupun berupa prosa yang memikat untuk dibaca. Akankah kita sengaja dibekali ribuan buku sajak, novel yang berbicara tentang kota  agaknya agar kita dapat membaca kota dalam sastra. Tak melulu dari iklan properti dan televisi.

             Kita memerlukan siasat membaca kota. Kita sebagai manusia transit ketika di sebuah kota butuh menenteng dan menyelipkan sebuah novel maupun buku sajak ditas adalah siasat cara membaca kota. Siasat yanga gak sulit dilakukan ditengah kota yang ganas, gaduh nan muram.

             Terkadang saat membaca itu kita terpikat ingin menjadi sebuah tokoh yang dituliskan dan dikisahkan. Inilah apa yang dimaksud oleh Sindhunata dalam esainya Ambil dan Bacalah mengatakan membaca memang bisa mengubah seseorang untuk menjadi seperti yang dibacanya. Merujuk pada kisah Miguel de Cervantes tentang Don Quixote de la Mancha. Akankah kita akan menjadi Chairil  dalam sajak-sajaknya dan Mas Marco yang menghidupi lampu sajak dan prosa kota melalui novel.


            Akankah kita hidup seribu tahun lagi di semesta kota yang gebyar sastra penuh dengan kata, sajak, dan novel. Beberapa kali juga kita meratapi kesedihan ingin transit dari semesta kota yang kita diami dengan bersajak lalu berterimakasih setelahnya. Membaca karya sastra barangkali siasat untuk mengingat sekaligus melawan kesenduan kenangan. 

Posted on Selasa, Januari 27, 2015 by Rianto

No comments

Sabtu, 15 November 2014

View_of_Delft_-_Jan_Vermeer_van_Delft
BAGI PAMAN ASIA imaji tentang kehadiran seorang malaikat dengan taburan bunga-bunga di kepalanya yang botak itu saat ia membaca majalah kesehatan di pagi hari membuat wajahnya tak terlihat sedap. Aku pastikan bukan majalah itu penyebab mukanya tak terlihat sedap. Tetapi berkat koran hari ini membicarakan berita-berita parlemen berdebat tentang anggaran perang. Ditambah iklan-iklan tentang shampoo dan pasta gigi menghias potret wanita cantik dengan klise memuja akan kepalsuan. 

Apalagi  roti panggang dengan potongan daging tipis tak berbau asap mulai mendingin. Tak dimakannya akibat saos pedas  kesukaanya habis. 

Bagi Paman Asia membuka buku itu sudah cukup untuk membuat imajinasi biasa-biasanya saat pensil ditangannya menjelma monster yang akan menyebulkan kata-kata ajaib. Betul Paman Asia adalah pensiunan dosen di sebuah universitas.  Hidupnya cukup. Hari-harinya kini hanya untuk menulis artikel tentang lingkungan. Sekali-kali dia juga mengisi rubrik ekonomi di sebuah koran lokal.

Paman Asia punya rumah dengan pagar lancip putih. Itu rumah kecil kesukaanya. Bibinya yang pemarah, dua tahun lalu meninggal.Membuat rumah itu menjadi sepi dan dalam situsi tak jelas. Menuruti kata bibinya yang akan djual oleh pemborong perusahaan perumahan swasta atau tetap dipertahankannya. Nampaknya Paman Asia sedang mengusahakan agar rumah itu tidak jatuh pada pemborong swasta.

Imajinasinya langka dan sederhana. Kalau  ia harus meninggalkan rumah itu, kata Paman Asia. Barangkali Paman Asia akan meninggalkan kebiasaan lamanya untuk pergi ke sungai yang menghias desa ini. Suara air sungai menghantam batu-batuan yang cerewet, sangat disukainya. Sungai kesukaanya itu tempat di mana Paman Asia  menghabiskan waktu untuk memancing troul. Ikan besar yang hidup di perairan sungai. Lagi-lagi ia harus merasa kesal kalau mengingat rumah itu akan dijual oleh bibinya itu yang cerewet. Paman Asia akan kehilangan rumah. Kehilangan sungainya. Ah, itu berarti Paman Asia bakal kehilangan ikan troul juga.

“Lekas kamu jual rumah itu,” begitu kata bibi Paman Asia mengingat ucapan bibinya itu yang tak menyukai daging setengah matang. Apalagi daging itu berbau kecap dan bawang merah. Bibinya akan meledak-ledak akibat bau itu mengganggu hidungnya. Yang padahal bau-bauan akan susah masuk di hidungnya yang pesek.

 Paman Asia menutup buku. Paman Asia pun mengunci pintu rumah depan lalu menutup garasi tak bermobilnya. Lagi-lagi rumah bergarasi menjadi ciri paling esensi menjadi manusia kota. Dengan rumah bergarasi, desa sudah mirip kota.  Paman Asia menjual mobilnya untuk biaya pemakanan bibinya itu. Paman Asia tidak akan kehilangan mobil itu kalau mau menyerahkan sertifikat tanah rumah kepada pemborong rumah swasta itu. Lagi pula ia tidak suka mengendarai mobil.

Tetangganya yang berada di depannya sedang berlari-lari kecil dengan anjingnya. Tetangganya itu kalau melihatnya sedang duduk-duduk di bangku atau sedang menutup garasi, ia selalu berkata,

“Halo, pemburu mana ikan troulmu,” kata tetangganya itu.

“Mudah-mudahan aku akan mengantarkannya malam ini dengan dua botol bir,” balas Paman Asia cepat.

            Bagi pensiunan  dosen sepertinya menjauh dari kota menuju desa adalah impian besar menghabisi ambisi imajinasi masa kecilnya. Bukan, bukan, aku salah. Paman Asia selalu berfikir memang menjadikan desa ini sebagai tempat peristirahatan masa pensiunannya.  Paman Asia bisa saja bersurat dengan anak-anaknya yang dikota untuk tinggal di desa selama-lamanya. Menjauh tua dari kota menikmati hari mudanya kembali di desa. Anak Paman Asia selalu menolak untuk tinggal di desa. Di mana radio-radio dan koran adalah hiburan satu-satunya. Mereka sering mengeluh karena jauh untuk mengunjungi drive thru. Membeli kentang goreng ataupun burger besar. 

****
            Paman Asia berjalan menuju sungai untuk memancing. Dia merasa muda kembali kalau di desa untuk memancing ikan troul. Tapi tulang pinggang dan kakinya tak bisa bohong, Paman Asia selalu kesemutan. 

            Paman Asia istirahat menunggu di sebuah jalan lebar dekat patung tentara. Jalan yang terbuat dari batu bata yan adem. Landmark desa yang masih membutuhkan monumen yang menjadi penghias.  Menjadi pemantik ingatan.

“Monumen dibangun untuk mengingat.” Begitu kata Paman Asia.

Paman Asia  berjalan mengelilingi dengan pelan monumen patung tentara itu.  Melihat-lihat. Sekaligus mengingat-ingat.

Seorang lelaki pensiunan dosen bertemu dengan patung gagah macam tentara membuat jantungnya melayang. Berdebar-debar mengapa patung segagah itu tak lapuk oleh usia. Malaikat imajinisi di kepala botaknya menghampirinya meniup ruh berupa kata yang tertata di kepalanya menarik untuk menyusun sebuah kalimat-kalimat yang membayang ikan troul.

“Aku ingin pergi memancing,” pikir Paman Asia. 

Paman Asia pun mencari sandaran untuk bisa duduk-duduk di sebuah bangku taman sambil memijit kakinya yang kesemutan. Cerewet burung gereja dan daun-daun yang gugur saling bersautan. Daun gugur akibat suara burung yang cerewet. Daun yang gugur saling tegur-sapa dengan suara burung yang cerewet. Lalu kata Paman Asia, daun-daun yang gugur menjawab dengan tulus hati menjawab,  

“Jatuh untuk menyuburkan tanah”

 Tidak ada kisah yang indah selain Burung  dan Daun yang gugur.

Paman Asia mendengar kisah itu dari istrinya. Ingatan itu tentunya bukan ingatan kenangan saja. Tapi memori manusia memang selalu menyediakan kenangan. Di sinilah hal-hal yang dulu tak pernah terjamah di masa kecilnya dilumat, dihabiskan dengan hebat-hebatnya. Dan yang gugur persis seperti manusia. Pagi ini opera trik sulap sebuah parlemen rebutan akan anggaran perang. Manusia tak lebih berguna ketimbang sebuah daun yang gugur. 

Berdiri lama-lama di monumen patung-patung. Lama-lama mendengarkan radio, mendengar musik. Ataupun menghabisakn berjam-jam waktu senggang hanya untuk memuaskan hati Paman Asia untuk memancing ikan troul. Itu adalah kenikmatan sendiri baginya.

Tetangganya yang selalu mengucapkan: “Halo pemburu mana ikanmu,?” lewat kembali dengan anjingnya yang selalu mengikutinya dari belakang. 

Katanya, Herman si pengantar susu menunggu di depan rumahnya. Sekaligus untuk mengobrolkan pembelian rumah itu. Paman Asia tidak bisa membayangkan nantinya  harus tinggal di sebuah perumahan yang berpagar gagah dengan satpam dan papan konyol yang selalu tertulis, “Anda memasuki Perumahan Boulevard” jika ia menjual rumahnya itu. Taktik orang kota yang egois. 

Ah tidak, kamu tahu Paman Asia akan memikirkan itu masak-masak. Sebab ia pun ingin mempertahankan sungai kenangan yang banyak sekali akan ikan  troulnya. Sebab apa ia mesti pindah ke perumahan yang menjemukan itu. Lalu bagaimana lagi, anak-anaknya ingin tinggal bersama Paman Asia. Dan permintaan anak adalah sesuci-sucinya kepolosan manusia. Paman Asia akan mengunjungi anaknya di kota. Ah, itu hal yang menjengkelkan, kecuali duduk-duduk di sebuah Taman Kota yang penuh dengan daun dan burung yang cerewet.
****

Posted on Sabtu, November 15, 2014 by Rianto

No comments

Kamis, 13 November 2014

Haji mengantarkan kita pada tokoh, kisah dan makna. Kita teringat Haji Danarto (1984) dalam bukunya Orang Jawa Naik Haji memuat kisah perjalanan haji penuh renungan. Seniman Danarto berkisah dengan apik perjalanan haji yang bermodalkan do’a sapu jagat. Seniman Danarto saat di dalam pesawat mengingat haji-haji yang khusyu salat di dalam pesawat yang kekurangan air dan penuh sampah. 
     
           Taufik Ismail mengenang haji adalah sebuah perjalanan air mata. Perjalanan haji menghasilkan kisah dan puisi. Taufik Ismail mengenang haji dengan puisi “Ziarah ke Kubur Sendiri”. Mari simak do’a dari penggalan puisi yang bergema, //Terdengarkah olehmu do’a terakhir itu//Diucapkan menjelang matahari terbenam//Dibacakan oleh dua juta jamaah//Diratapkan oleh mayat-mayat ini//Dua juta mayat yang tegak, yang duduk, yang tiarap//Apalagi beda antara do’a dan ratap//. Puisi menjelma kisah haji yang bermakna. Manusia berhaji dan berpuisi. Memekik renungan perjalanan haji melalui puisi penuh zikir.

            Di masa silam kita dapat menemukan haji yang rajin menulis kisah-kisah perjalanan hajinya. Kisah haji yang disusun Henri Chambert-Loir (2013) yang termuat dalam tiga jilid bukunya Naik Haji di Masa Silam menjadi renungan haji yang memukau. Dalam penelusuran sejarah naik haji itu ditemukan kisah orang sunda naik haji.  

            Salah satunya Raden Demang Panji Nagara pernah melakukan perjalanan haji pada tahun 1852. Raden Demang Panji Nagara merupakan seorang bangsawan berasal dari Sumedang. Ia berangkat bersama 24 orang  melalui desa Tomo lalu menumpang sebuah kapal Arab menjalankan ibadah haji. Dalam buku Ensiklopedi Sunda (2000) tercatat Haji Purwa pernah melakukan perjalanan haji pada tahun 1337. Konon Haji Purwa adalah haji pertama yang melakukan perjalanan haji.  

                        Di masa silam perjalanan haji menuai renungan. Perjalanan haji pun memantik untuk menulis kritik haji sebagai pembelajaran. Kita terkenang akan Boekoe Woelang Hadji karya Raden Moehammad Hoesen (1873). Wulang yang berarti pengajaran ini memang dimaksudkan sebagai buku pelajaran bagi yang berniat naik haji waktu itu. Suryadi (2013) mengatakan Boekoe Woelang Hadji yang disusun oleh sorang pemimpin pribumi di Karesidenan Priangan  ini melihat fenomena haji dengan sangat kritis. Menurut Raden Moehammad Hoesen yang menulis kritiknya melalui syair itu mengatakan bahwa tak ada gunanya beribadah haji itu apabila orang yang melakukannya menyia-nyiakan keluarganya, di kampungnya meninggalkan mereka dalam ketiadaan  jaminan uang dan kebutuhan hidup.

            Kita bisa menduga haji di masa silam dilakukan oleh para priyayi, para menak, yang ditandai dengan melek huruf dan mampu menulis. Perjalanan haji fenomenal dari orang sunda pernah dilakukan bupati R.A.A Wiranatakoesoema.  Ia menulis kisah perjalanan hajinya yang paling bersifat pribadi dan terperinci. Dari kisah bupati naik haji itu kita dapat menduga dapat menelusuri sejarah tanah sunda modern. Biola menjadi kata kunci modernitas.

            Musik menjadi pengingat memori dalam perjalanan haji mengenang tanah kelahiran. Wiranatakoesoema bermain musik dengan menggesek biola. Wiranatakoesoema menulis, “tatkala saya membunyikan lagu-lagu Sunda, maka terbayanglah pada kenang-kenangan saya, diri saya sebagai seorang anak kecil di kabupaten di tengah orang yang saya cintai”.Wiranatakoesoema terkenang akan eropa saat menggesek biola membunyikan lagu-lagu eropa. Saat itulah Wiranatakoesoema merasa, “terkenanglah saya akan masa dipindahkan dari dunia bumiputra ke dunia eropa, dan akan perbantahan yang hebat dalam hati saya antara kedua  pemandangan kehidupan itu. 


            Kisah-kisah haji memuncak pada keyakinan kita bahwa menulis kisah perjalanan haji menjadi do’a dan kenangan. Haji memuat kisah, tokoh, peristiwa, mitos, menjadikan kisah perjalanan haji merupakan khasanah kebudayaan tulis yang sangat berharga. Kita pun dapat mengenang dan mengambil hikmah para haji yang menulis kisahnya di masa silam. Dari sana cerita menjadi do’a.  Menjadi petunjuk hidup mengenang tokoh haji orang sunda yang menulis. Persis apa yang diungkap Ajip Rosidi dalam buku Apa Siapa Orang Sunda, ia mengingatkan,“Di kalangan orang Sunda sendiri tak ada tradisi menulis dan menyusun dokumentasi, sehingga tak heran kalau  generasi belakangan merasa “pareumeun obor’, kehilangan petunjuk tentang hubungan dengan nenek moyang dan saudara-saudara sendiri.Semoga kita tak pernah kehilangan obor itu. Tabik!
           

Posted on Kamis, November 13, 2014 by Rianto

No comments