Jumat, 22 Agustus 2014

Konon kolonialisme mewariskan foto-foto. Lensa kamera menjepret sketsa orang yang terjajah. Foto adalah mimesis akan keindahan dan dilema. Tillema seorang kromoblanda konon yang menggunting, membeli foto, menyajikan gambaran hindia untuk koran-koran. Menjualnya dengan tidak gratis.


             Terkadang Tillema berjalan dengan kameranya. Mengabadikan kolonialisme dengan foto. Bahkan Tillema dikenal sebagai kromoblanda yang mengabadikan tentang sejarah tinja di hindia. Inikah wajah kita yang diabadikan melalui foto yang bahkan terasa pribadi dan sensitif.

            Sejak kapan dimulainya foto untuk mengabadikan wajah kebudayaan kita? Tahun 1935 Tillema kembali merayakan keabadian lensa kameranya yang memberikan gambaran tentang suku-suku Apo Kaya di Borneo Tengah. Di saat itu pula alat tenun dan kainnya menjadi oleh-oleh untuk Koloniaal Institut di Amsterdam.




            Seperti apa yang digambarkan Rudolf Mirazek dalam bukunya The Engginers of Happy Land, Tillema atas dalih ‘kepentingan ilmiah’ memotret kebudayaan tenun.Tillema begitu bergembira. Tak ada yang membahagiakan hatinya saat negatif dicuci. Tillema menulis,

                “Kebahagian saya…. Setelah…. Ketegangan hampir setahun… untuk melihat negatifnya dicuci, dan, sesaat kemudian melihat, di layar, wanita-wanita kecil.. tekun menjalankan pekerjaaanya”

            Disanalah foto menjadi rima yang kuat menjadi kata kunci membaca kebudayaan. Foto bagian mata yang mengabadikan peristiwa dan tema yang mengundang pemaknaan akan sketsa humani. Disinilah dalih berbagi foto saja  sebagai bagian berbagi cerita dan kisah yang tak berkata namun kuat disajikan lewat gambar-gambar. 

            Saat aku mendapatkan buku “Indonesia Dalam 250 Foto” yang diterbitkan sebagai perayaan sepuluh tahun Harian Kompas seperti melepas syukur akan foto-foto tentang wajah kita sendiri. Ya buku itu tercetak oleh KOMPAS sendiri tahun 1975.  Lebih tua 26 tahun dari usiaku. Terkisah dalam buku itu foto-foto yang pernah tersaji dalam harian KOMPAS. 

            Ada wajah wanita di Bajawa flores. Ada gadis minang yang  manis. Ada wajah senyum perempuan pencari kayu bakar di Semarang Jawa Tengah yang hendak menaiki tangga. Itu semua adalah bagian wajah pruralisme kita yang tersedia dalam buku ini. Dalam surat kabar kita adalah bagian yang berbeda  dalam ika. Seakan-akan kau menemukan wajahku sendiri dibalik foto-foto itu. Wajah foto yang mesti didapat dengan upaya, 

                “Kadang-kadang perjalanan hanya berupa beberapa jam terbang.  Tetapi sering pula kami harus menunggu berminggu-minggu  untuk datangnya sebuah perahu. Bahkan juga terjadi kami harus berjalan kaki berhari-hari”

            Kini kita hidup dizaman digital dan instagram. Foto tentang wajah kita dapat mudah ditemukan. Koran-koran begitu mudah mengabadikan kisah wajah kita yang kadang bopeng sebelah. Foto dengan lensa-lensanya menjadi kisah kita membayang cermin wajah yang retak.

Kolonialisme mengajarkan kita hidup di zaman ketakutan akan orang lain berbalut estetis! Dilema berfoto dan berbudayakah kita?

Posted on Jumat, Agustus 22, 2014 by Rianto

No comments

Senin, 18 Agustus 2014

 “Baju pengantinku adalah kain kafanku,” Kartini

            Konon sejarah diungkapkan orang-orang kalah. Sejarah berisi orang-orang kalah. 
Kolonialisme menyebabkan orang kalah jarang bisa bersuara. Kartini adalah orang kalah yang patut dikenang, kata  JJ Rizal dalam diskusi di Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa. Ia mengenang sosok Kartini sebagai orang kalah yang mewariskan kita tentang  ide dan wacana. Tulisan-tulisan Kartini yang diterbitkan di Belanda adalah bukti: si hitam yang berhati putih.

            Belanda begitu ‘bernafsu’ menyodorkan Kartini sebagai sepetik kisah kolonialisme yang berujung politik etis membawa berkah. Kartini memang produk kolonialisme. Bagi JJ Rizal Kartini sosok yang membawa wacana terang dalam  pergerakan. Memang Kartini barangkali menjadi sosok inspirasi yang meninggalkan wacana dalam tulisan-tulisannya bagi generasi setelahnya.

“Habis gelap terbitlah terang”

            Pramoedya Ananta Toer menulis biografinya dengan judul ‘Panggil Aku Kartini Saja”. Bagi kita, Kartini sosok yang ingin dipanggil orang biasa saja. Nama menjadi penting. Panggilan membawa jejak kolonial dan makna. Kartini jelas mengerti dirinya sebagai sosok yang terjajah.

            Aku begitu ingin meyebut  Kartini: Memoar kesedihan. Dua minggu lalu aku baru mempunyai dan baca buku Satu Abad Kartini terbitan Sinar Harapan. Dalam diri Kartini begitu banyak kata modern menyelimuti tubuhnya. Barangkali kamar mandinya yang porselen menjadikan sosok Kartini bisa merasakan mandi bergaya eropa di tengah sosok wanita lainnya di hindia yang tak pernah punya imajinasi itu. Oh, itu hanya urusan mandi saja!

            Sutan Takdir Alisjahbana dalam esainya bagiku menghentak. Dalam buku  Satu Abad  Kartini jelas STA menempatkan Kartini sebagai sosok modern. Dalam diri Kartini berisi kesaksian akan kemajuan kebuadayaan barat.  

“Kartini sebuah mukjijat,” begitu kata STA

            Barangkali STA tak berlebihan. Kartini menjadi saksi akan kemajuan kebudayaan barat. Ditubuhnya mengalir imajinsi kebudayaan barat terbalut dalam hidupnya. Di tengah masyarakat yang lain tak berkehidupan, tak berpendidikan macam dirinya. Masih diselimuti kebudayaan timur yang : kolot , gelap. Kartini memang  sekaligus mendapat pendidikan ala Jawa dari Ayahnya. 

            Kartini adalah sosok pluralis. Mirip dengan buku yang dikarangnya tentang kuliner. JJ Rizal mengerti sosok Kartini sebagai ahli kuliner pada zamannya yang menuliskan tentang resep-resep makanan eropa, indonesia dan lainnya. Dalam bayangan Kartini, mungkin saja kelak Indonesia seperti meja makan yang berisi bermacam makanan.

            Kartini memang orang kalah. Namun, wacana yang dibawanya menjadi ukuran bahwa Kartini berhak menjadi suluh yang memberikan jejak kemajuan kebudayaan barat sebagai simbol yang mesti direngkuh. 
 
Lalu mengapa Kartini?

            Konon Kartini memang sosok yang tak ikut berperang macam Cut Nyak Dien. Terlalu naif mengecilkan membaca Kartini seperti itu. Tulisan Harsja Bachtiar barangkali paling menarik bagi kita yang ingin mengetahui posisi Kartini ditengah tokoh wanita  lain macam Sultanah Safituddin dari Aceh.  Tinjauan menarik yang memukul kita mengapa kita selalau kalah dalam berwacana memilih perlambang mengenai cermin sosok kita sendiri. 

            Kartini jelas diplih belanda. Lalu baru  kita tersadar mau mengembanagkannya lebih  lanjut. Penelitian tentang sosok Kartini di daerah lainnya menjadi macam pendorong bagi kita menyusun kembali ingatan tentang pejuang wanita lainnya tanpa mengecilkan jasa Kartini. Aku menunggu kisah itu.

 Kapan-kapan aku cerita lagi ke kamu tentang sosok dia di buku ini.

Selamat tidur sayang…

           


Posted on Senin, Agustus 18, 2014 by Rianto

No comments

Kamis, 14 Agustus 2014


           Dunia anak penuh letupan kisah lucu, menegangkan dan mengundang imajinasi. Terlebih buku bacaan anak selalu menggugahku untuk membacanya berulang-ulang. Kini aku jatuh cinta pada cerita anak yang dikisahkan penulis eropa dan diterbitkan dengan bahasa Indonesia. Hem, mungkin aku bukan mahasiswa jurusan sastra yang sok nyentrik membaca karya sastra anak eropa macam Erick Kastner.  Apalagi berlagak menjadi orang dewasa yang sok tahu dunia anak dan berkisah tentang buku itu ke kamu.           

           Aku punya tiga buku koleksi cerita anak Erick Kastner. Pertama Punktchen dan Anton, kedua Lotte Kembar Dua dan terakhir Emil Detektif Cilik. 

            Dalam cerita anak selalu muncul persahabatan. Barangkali aku cuma mau bilang, ada kisah anak yang diceritakan Kastner begitu menarik.  Kastner melalui tulisannya menyuarakan  persahabatan dalam anak adalah yang mesti kita ingat.

            Di bukunya Punktchen dan Anton,  Kastner mempunyai misi lucu: mengundang kita menjadi bocah seperti tokoh dalam tulisannya. Mengapa? Alasannya sederhana ! Anak baiklah yang dibutuhkan di dunia ini. 

            Aku ingin sekali membedah sastra anak Kastner ini. Penulis yang sempat dikejar-kejar Hitler ini berjuang melalui kisah anak. Ha, masa kecilku jarang sekali membaca buku seperti ini. Tapi bagiku, sejak aku duduk lama-lama dengan temanku mendiskusikan Kaestner menjadi ‘api’ dalam imajinasiku memuncak! Aku ingin mengoleksi buku-buku Kastner. Menjadi pencerita kisah anak karangan Kaestner yang berbahasa Indonesia.  

            Makanya aku selalu berdo’a kepada tuhan, agar aku dimudahkan menjadi penulis dan pengumpul buku-buku cerita anak.  Buku cerita anak mempunyai misi mencipta dunia. Inilah yang kalau aku baca lama-lama, Erick Kastner mirip pesulap kata yang mengundang kembali kepolosan imajinasi anak baik melalui kisah-kisah menariknya. 

            Di buku Punktchen dan Anton (Gramedia 1992)  misalnya, Kastner bilang, “Siapa tahu kalian ingin berniat menjadi mereka (emil, punktchen, anton),” kata Kaestner. Ia pun melanjutkan “Barangkali kalian begitu menyukai mereka, sehingga kalian berusaha untuk menjadi serajin, sebaik budi, setabah, dan sejujur mereka”

            Menurut Kastner mencipta anak-anak seperti itu menjadi imbalan paling indah dalam imajinasinya. Aku pikir, Kaestner bisa tertawa lega, imajiasinya telah masuk ke Indonesia dan  kisah-kisahnya merasuk pada anak-anak di dunia termasuk Indonesia. 

            Mempunyai buku Kastner seperti ini barangkali hanya dimiliki oleh orang tua yang ada di perkotaan. Mungkin saja dugaanku salah. Tapi aku yakin ibu mana yang mau lama-lama duduk dengan anaknya menceritakan kisah anak seperti ini sebagai pengantar tidur? Kini anak-anak merupakan mimesis televisi. Anak digital. Televisi dan gadget menjadi teman sepermainan bukan buku cerita anak. Persahabataan dijalin bukan melalui kata tapi maya. 

            Aku begitu bergembira membaca tulisan penulis cerita anak macam Kastner. Mohammad Sobary pernah mengatakan dalam salah satu esainya, menulis kisah anak lebih sulit dibanding menulis esai! Mari kita simak imajinasi Kastner yang tertuang dalam kepolosan Punktchen yang menurutku Kastner begitu lucu membongkar pikiran orang dewasa yang naif. 

            Saat itu Anton tidak masuk sekolah. Ia harus mengurus ibunya yang sakit. Menyiapkan sarapan dan obat. Di sekolah Anton tertidur dan PR nya tidak memuaskan.  Tak disangka Punktchen si gadis lucu itu meghampiri guru Anton yang berkepala botak. Ia ingin gurunya tidak menulis surat untuk ibunya Anton. Punktchen pun  menghampiri Pak Bremser berbicara empat mata. Punktchen berkata dengan nada kesal, 

            “Saya hanya bisa mengatakan bahwa anak malang itu bekerja siang dan malam. Ia membanting tulang dan memasak dan mencari uang dan membayar makanan dan sewa rumah, dan kalau  ia potong rambut, ia membayar dengan cara mencicil. Dan saya merasa heran bahawa ia tidak tidur terus di sepanjang jam pelajaran."

Pak Bremser berdiri seperti patung. Guru-guru lain memasang telinga.

            “dan Bapak malah  mau mengirim surat pada Bu Gast, untuk memberitahunya bahwa anaknya malas! Keterlaluan. Bisa-bisa Bu Gast jatuh sakit lagi, dan harus kembali ke rumah sakit! Dan kalau begitu, Anton Pasti ikut sakit, itu saya jamin”

            Percakapan antara Punktchen dan Pak Bremser guru Anton di Sekolah membuatku tercengang. Dialog antar anak dan guru seperti ini menjadi bahan refletif bagi guru-guru kita yang sok hebat dan galak tapi tak mengenal muridnya sendiri. Begitulah.

            Malam  ini, kamu tahu, aku menuliskan esai kisah anak ini membuatku berfikir lebih mengakar akan  masa di mana rumah kita penuh akan buku-buku cerita anak yang menghiasi di  dapur, di ruang tamu, di serambi depan  rumah ataupun di tempat tidurmu. Saat itu aku berkisah kembali dengan polos: aku mencintai  kisah ini mirip dengan mencintaimu dengan kata dan kisah.

Selamat malam…





Posted on Kamis, Agustus 14, 2014 by Rianto

No comments

Jumat, 08 Agustus 2014



I
            Kampung mempunyai memori dan harapan. Ingatan tentang kebun, pohon mangga, dan pelbagai angan-angan akan kampung merasuk dan mentradisi pikiran orang-orang untuk memaknai kampung sebagai tempat pulang dan meneduh. Konon kampung menjadi alasan orang-orang mengurus hidup dan produksi imajinasi akan tempat tinggal yang adem dan tenteram. Alasan itulah yang terkabung dari kisah beberapa bocah dalam buku “Membuka Daerah baru karangan Sujono H.R berkisah anak-anak yang pergi meninggalkan kampung halamannya akibat kebijakan dan bencana alam.

            Saat itu pentas wayang menjadi hiburan warga yang akan berangkat besok menuju tempat kampung halaman baru. Dengan judul “Malam Terachir” Sujono menggambarkan haru kisah "bermain" beberapa bocah yang akan meninggalkan kampung halamannya karena program transmigrasi. Desa mereka yang sering terkena banjir menjadi alasan kenapa mereka mesti pindah. Aku terasa terharu saat penulis kisah fiksi ini mulai menulis,

…Tjahya  menghela napas, lalu memandang ke sekelilingnja. Besok ia akan berpisah dengan kebunja, dengan pohon belimbingnja; pohon nangka, kelapa dan djuga dengan pondoknja jang baru sadja selesai di bangun dalam beberapa hari jang lalu…

            Kampung halaman produksi kenangan yang merujuk pemaknaan. Bocah-bocah itu menjadi saksi bagaimana program transmigrasi menjadi kisah yang mereka jalani dengan kanak: gembira. Mengenang keusilan, kenakalan bocah yang riang merdeka : mentjuri jambu di kebun Mak Sujem.

            Aku jadi ingat apa yang dikatakan dengan Romo Mangun dalam pengantar buku homoluden karya Zuiniga. Hem, dalam bermain selalu ada unsur kemerdekaan. Heh, mereka bermain kejar-kejaran dan juga berlomba tiup balon. Kau tahu permainan itu mereka lakukan sebagai penutup memori kenangan akan kampung halaman mereka yang mungkin saja tak mereka temui lagi. Lucu sekali digambarkan mereka bermain  tiup balon.

 …Nah, marilah kita mulai dengan permainan ini. Ambillah masing-masing sebuah balon. Kalian harus meniup sebesar mungkin dan setjepat mungkin, “ kata Tjahya sambil membagikan balon-balonnja.
            
Dalam permainan selalu ada unsur kegembiraan dan hadiah. Mereka pun menjadikan kerupuk hadiah. Lucunya selalu saja ada bocah nakal yang mengundang tawa.  Si bocah bandel menjadi korban kejar-kejaran dari kawannya. Sebab mengambil hadiah pemenang tiup balon. Dan si bandel pun terkena getahnya. Saat dikejar,

… si bandel pantang menjerah, belok ke kiri menjusuri pematang dekat sebuah empang. Malang  baginja terpleset dan….. bjuurrr…. Masuk empang.
II
                Imajinasi anak tentang Jakarta begitu menggugahku saat membaca buku ini. Jakarta tetap menjadi lumbung mimpi. Anak-anak yang mesti transmigrasi ke daerah lampung mesti  transit di Jakarta. Laju kereta membawa mereka ke Stasiun Senen lalu mereka akan menuju pelabuhan. Jakarta selalu menarik dengan gedung-gedung gagahya.

“di sepandjang djalan mereka mendjadi sangat kagum melihat keramaian Ibukota di malam hari. Mereka terpesona melihat toko-toko dan gedung-gedung mobil sedan, truck, bis, sepeda motor, bemo betjak dan sepeda, berseliweran tak henti-hentinja."
            Aduh, si bocah berimajinasi ingin kuliah di gedong Universitas Indonesia,

“Gedung jang  besar sebelah kiri djalan itu: Universitas Indonesia,” Paman Kamin mendjelaskan.

“Kelak saja akan meneruskan peladjaran di situ, “ sahut Janta  

                Mereka begitu terpaku dan bergembira ketika plesiran ke Jakarta sebelum bertolak ke kampung halaman baru di Lampung. Barangkali dari buku ini aku begitu yakin, konsep tentang migrasi tak hanya berakal dari pengamat televisi saat lebaran seperti ini. Kini kisah migrasi bukan hanya monopoli diktat-diktat kuliah geografi ataupun demografi. Beuh! Migrasi pun bersastra dan mengundang makna. Buku Sujono  “Membuka Daerah Baru” terbitan Pustaka Jaya (1971) menjadi teks sastra itu.  

                Aku ingin berkisah dan bercandra denganmu mengenai kisah ini. Aku yakin ada keplosan dihatimu yang ingin aku dengar. Mengenalmu lewat sastra dan kisah masa kecilmu.

Hai pacarkecilku, selamat tidur sayang….


            

Posted on Jumat, Agustus 08, 2014 by Rianto

2 comments

Senin, 04 Agustus 2014


“Satu-satunya yang bisa bebas adalah fantasiku dan lamunanku,” kata Nashar

            Jakarta menjadi lumbung menabur lamunan dan mimpi. Jakarta selalu menyimpan mimpi berujung airmata.  Di mana mata awas di setiap daerah sekitarnya menghamba Jakarta sebagai kota mimpi. Nashar, pelukis kita yang hampir komplit menjadi legenda itu menganggap Jakarta sebagai tempat menaruh impiannya sebagai pelukis besar. Nashar pernah menjadi tukang bangunan. Kuli bangunan yang hanya dibayar dengan rokok dan satu kali makan. Betapa saat itu dia menganggap hidup ‘ mesti tidak berdiri diatas telapak  kaki orang lain’. Nashar, kamu  begitu birahi dengan Jakarta!

            Kisah tentang pelukis Nashar yang ditulis oleh Nashar sendiri ini termuat dalam buku nashar oleh nashar (2002) terbitan Bentang. Kamu tahu, aku begitu obsesi mengetahui kisah-kisah pelukis Indonesia. Ah, aku tak pandai melukis. Aku ingin melukis kamu melalui kata.

            Yogyakarta pada saat itu dilanda perang akibat agresi militer tahun 1946. Nashar muda masih belum mengerti akan perjuangan melalui kuas.  Waktu itu umurnya masih 17 tahun.  Soedjojono dan Affandi merupakan pelukis yang berjuang melalui kuas. Nashar muda masih belum mengerti dengan maksud kedua pelukis  senior itu yang mengatakan berjuang melalui kuas.

            “Aku harus jadi pelukis, aku harus jadi pelukis,” begitu kata Nashar muda.

            “Kalau takut kena penyakit TBC jangan jadi pelukis”, terngiang Nashar dengan kata Sudjojno, begitu pula Affandi berucap, “Habiskanlah  seluruh waktu hidupmu untuk melukis. Kalau cari uang , carilah sekedarnya saja selebihnya serahkan hidupmu untuk seni lukis. Jalan seni ini dipakai Nashar dalam memilih hidupnya kelak.

            Kereta melaju ke kota Madiun.

Kota  kebebasan seni Nashar. Barangkali kita mesti mengerti jalan seni lukis yang diambil Nashar telah menyebbkan Ayahnya marah besar. Anggapan Ayahnya menjadi insyinsurlah hidup akan lebih baik. Namun Nashar memilih menjadi pelukis. Keliling beberapa kota menjalani hidup menjadi pelukis. Jakarta, menjadi tujuan Nashar.

            Kamu mesti anggap Nashar menggila dalam jalan seninya. Barangkali Nashar belum mengerti akan perjuangan kuas. Ke Jakarta tak punya uang. Nashar naik truk-truk yang membawa senjata oleh para tentara. Teman-teman Nashar sudah menunggu di Tasikmalaya. Di kota Cirebonlah  Nashar mengerti akan perjuangan melalui kuas. Kota Cirebon siap menjadi kota yang terbakar perang.  Nashar berkata,

            “ tiba-tiba komandan kami memanggil Wakidjan dan aku. Kamu berdua diberi tugas, yaitu kami  berdua harus  segera berangakat masuk Kota Cirebon .  Di sana kami   menghubungi kawan-kawan  dari gerakan bawah tanah  untuk bekerja sama  membuat poster-poster dan memasangnya di seluruh kota. Poster-poster yang berisi mengacaukan Belanda itu harus telah terpasang di seluruh kota menjelang Tahun Baru” (hal-52)

            Nashar begitu bergembira bisa mengangkat senjata dan kuas!  Dalam perang, Nashar tetap memegang kata Affandi, “Melukislah sebanyak mungkin”. Dengan begitu Nashar menganggap, “aku lebihh bisa merasakan cat dan kuas sebagai senjata untuk berjuang.”

            Nashar menjalani hidupnya dengan urakan. Nashar biasa menghadapi lapar dan kemiskinan dalam melukis. Baginya mungkin kita bisa melihat lebih jauh,  melukis tidak ada hubungan dengan harapan menjadi kaya. Melukis ya melukis! Melukis sebanyak mungkin. aku begitu terharu dengan kisahnya mejalani hidup melukis ke daerah-daerah macam Bali, Yogyakarta, ataupun Jakarta. Di akhir buku aku begitu bergidik membaca surat-surat itu. Surat yang Nashar tujukan kepada kawan  yang tak dikenalnya.

             Adakah kamu juga melalui waktu dengan melukis hidupmu itu yang indah? Kamu tahu aku merindumu disetiap aku membaca buku seperti ini. Merindu hidup mesti meletup-letup dengan obsesi yang tak mungkin menunggu lalu waktu habis begitu saja bergerak dipandang sebagai yang ekonomikus. Aku membaca, kamu mendengarkan kata dan makna. Bukankah itu namanya ibadah sayang?



Selamat malam.

           



Posted on Senin, Agustus 04, 2014 by Rianto

No comments


Bus Rukun Jaya melaju dengan pelan dari Rawamangun menuju Solo. Kami sengaja dari Jakarta mengunjungi Solo untuk mengikuti Sinau Buku di Bilik Literasi Solo. Sinau Buku berlangsung 16-18 Mei 2014. Sinau buku ini digawangi oleh esais kondang Bandung Mawardi. Rumah sederhana  Bandung Mawardi disulap menjadi ruang pameran buku. Buku-buku lawas itu digantung menghias di ruang utama rumahnya. Buku-buku lawas itu memuat warisan perjalanan sejarah pendidikan Indonesia. Melalui buku Bandung Mawardi mengajak kami untuk merawat ingatan tentang sejarah pendidikan  Indonesia.

Lebih dari 150 buku lawas tentang pendidikan dipamerkan di rumah Bandung Mawardi. Buku lawas itu terdiri dari buku terbitan 1920-1980-an. Lawas, namun merawat pikiran untuk eling sejarah pendidikan. Sinau buku dihadiri oleh mahasiswa, peminat kajian pendidikan, dan dosen. Bandung Mawardi pun memberikan selebaran menarik Ora Weruh. Buletin Ora Weruh berjudul Ngopeni ini merupakan buletin khusus berisi esai tentang buku-buku lawas pendidikan.   

Hamzah mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris UNJ mengatakan kaget dengan buku-buku yang dipamerkan oleh Bandung Mawardi. Buku-buku lawas yang menghampiri matanya itu tak pernah dilihatnya bahkan sulit ditemui di perpustakaan LPTK. Yunan mahasiswa hukum di Universitas Semarang pun demikian. Ia kagum melihat koleksi buku-buku pendidikan yang dipamerkan oleh saudagar buku Bandung Mawardi.

Jalan Literasi

Sinau buku dimulai dengan orasi pendidikan yang dilontarkan oleh Fauzi Sukri. Esais peminat kajian pendidikan dari Bilik Literasi Solo ini memaparkan dan menata ingatan tentang sejarah buku-buku penting pendidikan yang pernah menghias Indonesia. Fauzi Sukri mengingatkan tentang buku lawas macam Mendidik dari Zaman ke Zaman  (1953) karangan Muhammad Said merupakan buku pendidikan yang penting. Pun roman Manusia Bebas (1975) karangan Suwarsih Djojopuspito yang sudah dilupakan. Setyaningsih santri Bilik Literasi Solo mengungkapkan buku lawas The Liang Gie berjudul Cara belajar yang Efisien menjadi buku pengingat mahasiswa tentang makna belajar. Buku manjur khusus mahasiswa ini menjadi ingatan sejarah tentang buku penting panduan menjadi mahasiswa pembelajar. 


Priyadi santri dari Bilik Literasi Solo  pun memaparkan orasi pendidikan menarik dengan mengajak menelusuri sejarah pendidikan Indonesia melalui buku sastra. Priyadi mengungkapkan dengan apik buku-buku sastra yang merekam kisah pendidikan Indonesia. Misalnya buku-buku Ashadi Siregar, cintaku di kampus biru. Begitupula buku lawas Para Priyayi karangan Umar Kayam dan Student Hidjo karangan Mas Marcokartodirdjo. Menurut Priyadi, buku-buku sastra seperti itu patut dibedah. Karena buku sastra seperti itu mempunyai cerita sejarah berlatar kisah pendidikan.

Sinau buku pun membedah buku terbaru dari Bandung Mawardi yakni Pendidikan: Tokoh, Makna Peristiwa. Buku yang diterbitkan oleh jagat ABJAD ini merupakan kumpulan esai Bandung Mawardi tentang pendidikan yang pernah nangkring di koran-koran macam Tempo, Jawa Pos, Koran Seputar Indonesia, Suara Merdeka. Solopos, Joglosemar. Tulisan-tulisan Bandung menyoroti pendidikan Indonesia dari hal yang sepele. Contohnya tulisannya yang berjudul Bias Iklan Universitas menjadi renungan refleksi bagi kita untuk menyadari bahaya iklan-iklan pendidikan yang marak untuk memikat  perhatian publik dan mahasiswa. Tulisan-tulisanya pun banyak memuat tokoh-tokoh biasa macam Pak Kasur.

            Budiawan alumnus PBSID FKIP UMS mengatakan tulisan-tulisan Bandung Mawardi menjadi refleksi bagi dirinya dan kita semua yang bergelut di bidang pendidikan. Rahmah, dosen Bahasa Indonesia UNJ mengatakan Bandung Mawardi ulet menelusuri pustaka dan pilihan kata dalam tulisan-tulisannya.“Ini menunjukan pertanggungjawaban intelektual  Bandung Mawardi melalui karya buku,” kata Rahma.


            Sinau buku berupa pameran buku pendidikan, orasi pendidikan, dan bedah buku di Bilik Literasi Solo ini membawa serpihan ingatan-ingatan sejarah pendidikan. Ini menjadi usaha memaknai pendidikan dari sejarah yang dikontekstualkan dengan pendidikan hari ini. Tentunya usaha ini merawat ingatan akan jejak-jejak pendidikan Indonesia melalui jalan literasi.




Posted on Senin, Agustus 04, 2014 by Rianto

No comments

Sabtu, 19 Juli 2014

         
              Do’a membaca buku adalah saat tubuh yang lelah berprosa akan kehidupan imajinasi penuh bunga-bunga kata dan makna menjelma terasa menjadi keteduhan jiwa. Saat itu kereta berlaju dengan pelan. Koran-koran pagi mengharap hamba tak berkacamata untuk sejenak memandang kata dan peristiwa.

            Ada tokoh ada peristiwa yang mengundaag mata untuk terbaca. Barangkali aku lupa, menjadi makhluk pembaca yang berharap agar tak menjadi “homo omnios libri”. Yakni kutukan bagi kita yang hanya menghibur diri sampai mati mengandalkan satu buku. Aku adalah sekumpulan serpihan yang mengundang mata ini menjadi saksi adanya hamparan luas buku-buku. Mereka memanggil, memekik dengan suara indah,  meminta-minta diceritakan, dibacakan. Di situlah do’a semakin kuat agar kekasih hatiku pun mendengkap tangannya dengan do’a dari buku.

            Kereta masih berjalan dengan pelan. Seorang lelaki memijit korannya menjadi informasi usang. Koran menjadi usang. Informasi bukanlah pengetahuan begitulah kata Einstein. Aku tercabik mengingat itu karena uangku sudah keluar untuk membeli koran di dekat stasiun tadi. Oh, apakah aku harus memaki para wartawan dan redaktur yang menulis informasi-informasi picisan.  

            Hidup di kota ini merampas segalanya. Kekasihku aku sendiri tidak yakin dengan isi tasku yang hanya membawa satu buku. Buku itu terpilih secara acak dari kumpulan buku-bukuku yang terasa kacau. Barangkali kamu pun bakal membenci keadaan ‘pecah’ berantakan itu. Buku-buku itu yang menghias di lantai-lantai berkeramik putih.  Buku tipis itu aku membelinya di sebuah pesta buku di kota ini. Ya buku hasil meminjam dari teman. Dua puluh ribu yang keluar dari kantong temanku menjadikan buku ini menemaniku di kereta yang mulai dingin.

            Masih ada sepuluh lebih stasiun yang mesti aku lewati. Memacuku untuk membaca lebih hebat, membaca lebih sekedar melawan kantuk. Halaman-halaman kisah sahabat yang mengenang sahabatnya melalui tulisan. Berbahagialah mereka yang mengenang sahabatnya melalui sepucuk tulisan. Apakah itu engkau sahabatku yang menulis pandagannya seorang pelukis macam Affandi? Ataukah terlalu ringkih kita mengenang hanya melalui tulisan? Gubernur pun mengucap do’a dalam sambutannya, “saya merasa penghormatan kami ini terlalu kecil artinya”, begitu kata Ali Sadikin.

            Affandi memang orang besar.  Mendapatkan Doktor Kehormatan.  Mendapatkan hadiah internasional. Kota ini adalah begitu kecil untuk Affandi. Tapi Affandi telah membesarkan kita yang melihat lukisannya. Barangkali kalau Belanda disebut sebagai ”Het Land Rembrandt”, beranikah kita menyebut negeri ini “Het Land Affandi” ? Ratusan tahun Rembrandt dikenang di museum-museum megah di Belanda. Buku ini hadir menjadi museum kata, beribu peristiwa menjadi satu dalam buku ini mengenang Affandi yang berumur 70 tahun.  Dewan Kesenian Jakarta melalui Ajip Rosidi, Zaini, serta Sudarmadji menjadikan  buku ini hadir menjadi temanku di kereta yang terasa dingin ini.

            Sekian tokoh bersaksi, sekian tokoh berkisah mengenai Affandi.  Sutan Takdir Alisjahbana jelas memekikan kata “modern”dalam membedah lukisan-lukisan Afandi. Takdir pun menulis, “Saudara Affandi  bukan seperti lukisan-lukisan kesenian kita turun-temurun , seni lukis yang memperlihatkan ciri-ciri yang tegas seni modern dari kebudayaan industri dalam seratus tahun yang akhir ini”.  Semangat "modern" ini mesti dihidupi dengan lukisan-lukisan Affandi yang kaya akan semangat itu.

            Bagiku sendiri, tulian Sudjojono berjudul “Tentang Affandi” mirip  sepucuk suarat dari sahabat yang telah lama tak bersua, bercerita  akan serpihan hidup Affandi dari kesaksian seorang Bapak Lukis Modern Indonesia.  Kehadiran buku ini pun menjadi gelora bagi kita yang ingin membaca tentang kisah hidup pelukis-pelukis dalam teks sejarah  yang melulu sulit ditemukan di negeri ini. Sudjojono menulis,

…Kalau bisa dikumpulkan hasil-hasil kerja seribu orang pelukis terkemuka, dari seratus negera di dunia, di mana harus masuk Perancis, Nederland, Jerman, Belgia, USA, Australia, Swiss, Jepang, Spanyol, Mexico, Inggeris dan Indonesia, maka dengan mudah orang bisa akan menunjuk lukisan Affandi dari jauh antara seribu lukisan yang dijajarkan itu….

            Sudjojono mengatakan , “Tanpa kesenian orang bisa hidup, tanpa  negara merdeka orang jadi budak”.  Kita mesti mengenang Affandi sebagai seniman dari pra kemerdekaan. “Dia Seniman.,” kata Sudjojono. Affandi menjelmat eks yang terbaca dari zaman. Affandi dikenangnya sebagai sosok yang pendiam. Namun lukisan-lukisannya selau berbicara lantang  tentang kerja Affandi dalam mencipta enersi yang meluap-luap. Masihkah kita merasa intelegensia kita masih tak sejajar dengan pelukis-pelukis luar negeri? Sudjojono membedah mentalitas itu berkaca dari Affandi!

            Mataku  mulai mengantuk. Masih ada kisah menarik dari buku ini. Aku sendiri meragu. Kereta ini sebentar lagi sampai Stasiun yang bakal aku tunggu. Stasiun ini aku kenang dengan kursinya yang empuk, dingin. Tak sia-sia aku membawa buku ini menjadi  beribu kisah yang bakal aku ceritakan ke kamu.  Kamu yang ada dihatiku kelak.  

Hem.Hem.hem, selamat tidur sayang…


Posted on Sabtu, Juli 19, 2014 by Rianto

No comments